"Ah betapa seseorang dilimpahi kedamaian yang luar biasa apabila perasaan-perasaannya telah dapat ia kendalikan"
Begitulah St. Theresia dari Lisieux berkata.
Secara kodrati sebagai seorang manusia hal-hal yang terkait dengan perasaan-perasaan duniawi memanglah sungguh sulit dikendalikan.
Ada dorongan yang sangat besar untuk mengatakan demikian, dan untuk berbuat demikian..
Jika dorongan itu hanya ada di dalam hati tanpa keluar dari mulut atau pun perbuatan, itulah yang disebut perjuangan dengan langkah awal yang sungguh teramat indah..
Perjuangan itu akan menjadi sebuah kemenangan besar ketika kita mampu mengolah perasaan kita sendiri, dan dengan seluruh kerendahan hati dan kepasrahan, kita mohon kepada Bapa untuk menggantikan keterbatasan kita dengan Kasih-Nya yang Mahabaik!
Mengingat Santo Paulus yang berkata bahwa "Kita harus bermegah atas kelemahan kita", di sinilah letak kerendahan hati.
Sadar bahwa kita hanyalah makhluk papa yang tidak dapat berbuat apa-apa tanpa Kasih Allah.
Alkitab pun memperkenalkan kita pada suatu rahmat, yang lebih ditekankan oleh St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus bahwa "Kita bahkan tidak akan mampu menyebutkan nama YESUS tanpa Rahmat Allah"
Kepapaan kita disukai Allah, karena di sinilah letak kepercayaan, kepasrahan, dan cinta kita kepada-Nya.
Dialah yang memberikan hidup kepada kita, maka kembali pada Dialah hidup dan cinta kita, bukannya bergantung pada kemampuan sendiri dan menganggap apapun yang telah diraih sebagai imbalan dari segala usaha mandiri kita. Tidaklah demikian!
Setiap perjuangan kita tidaklah terlepas dari Kasih Allah, dan dalam Amsal dikatakan bahwa semua baik adanya bila kita mencoba melaksanakan kehendak Tuhan.. yang dapat saya artikan bahwa Tuhan selalu membuka jalan dan menyertai kita jika kita mau tetap mengikuti-Nya dengan seluruh iman, pengharapan, dan kasih yang kita miliki..
Perjuangan adalah titik di mana kita menyadari Kemahakuasaan Tuhan dan kekecilan kita..
Baik adanya apabila kita mau memenuhi kehendak Allah dengan sempurna dalam hidup kita tanpa mau dihalang-halangi oleh makhluk ciptaan. Demikianlah St. Theresia Lisieux berkata.
Marilah kita semua selalu berusaha untuk melaksanakan kehendak Allah dengan seluruh kepenuhan hati.
Damailah batin kita karena kebahagiaan dan kepuasan-Nya atas kekecilan kita.
Irene, bgmn membedakan"bermegah krn kelemahan kita" yg didasari dg kerendahan hati dan suatu kesombongan? Kadang manusia bermegah dikonotasikan dg kesombongan. Terimkakasih
BalasHapus