Rabu, 29 Mei 2013

Rasa, Cinta, Kita

Rasa ialah akan tetap menjadi sebuah rasa jika demikianlah kita menghendakinya.
Yang jadi pertanyaan ialah apalah definisi dari rasa itu sendiri?

Saat ini, dengan beribu rasa yang memenuhi hatiku, aku berucap kepada Allahku
Berucap agar Dia dengan seluruh cinta kasih-Nya kepadaku mampu memampukan aku dalam mengenali dan mengolah rasa ini.

Tidak ada rasa yang tidak boleh ada selama itu semua berasal dari Sang Kuasa,
Namun sampai pada waktu mana rasa itu dibiarkan berjalan dan hidup, itulah yang harus kita pertanyakan..

Rasa membawa kita pada suasana, dan suasana membawa kita pada pengolahan diri
Pengolahan yang bagaimana? Entahlah

Ketika aku bahkan belum bisa menemukan definisi dari rasa itu sendiri, aku tidak mampu berbuat apa-apa
Dan hanya menjalani tapak demi tapak dengan pertanyaan, pengharapan, dan sedikit pengendalian ketika rasa itu mulai berkecamuk tiada henti

Kunikmati rasa ini, tetaplah kuberdiam dan merasakan dengan rasa yang tetaplah menjadi sebuah rasa
Rasa yang mungkin bisa menjadi sebuah cinta jika demikianlah Ayahku menghendakinya,
Keputusan-Nya ialah kebebasanku
dan kebebasanku ialah milik-Nya..
yang sungguh kutakutkan ialah mengikuti kehendakku sendiri..

Rasa
Kembali ke sebuah rasa
Yang pada akhirnya akanlah tetap menjadi sebuah rasa

Demikianlah aku dan rasaku saat ini
Dengan seluruh kekuatan dan cintaku untuk menikmati dan berusaha mencintai rasa ini
Tetap tinggal ialah salah satu usaha terbaik dalam proses pendewasaan
Pendewasaan rasaku dan rasamu

Kuberdoa untuk rasa ini
Rasa yang berbeda dan belum pernah kurasa sebelumnya
Semoga Tuhan memberkati setiap rasa ini sampai pada saatnya nanti
Saat ketika rasa telah terkuak dan menjadi nyata

Selasa, 07 Mei 2013

Masalah Hak dan Kasih

"Mereka punya hak buat ngomongin kamu, dan kamu punya hak buat ga dengerin mereka"

Yah ga ada yang salah dari kalimat itu, seorang sahabat yang emang tahu bagaimana aku.
Maka dia pantas berpendapat tentang aku.
Tapi seorang teman yang ga "mengenal" aku, sepertinya kurang pantas untuk berpendapat dalam bentuk apapun.

Hak, yah mereka semua punya hak buat berpendapat. Maka aku ga bilang bahwa mereka ga boleh ngomongin aku, mereka cuma kurang pantas berpendapat mengenai sesuatu yang bahkan mereka ga tau betul mengenai hal itu.

Ibarat sebuah buku. Kita hanya melihat judul, cover, ato bahkan membaca sipnosis sekali pun tapi kalo kita belum membaca keseluruhan dari isi buku itu, pendapat kita ga akan cukup mewakili isi dari buku itu yang sebenarnya.

Jadi, berbicaralah, berpendapatlah pada apa yang seharusnya kamu katakan.

Orang jahat dengan sendirinya akan tenggelam oleh kegelapannya sendiri. Ga akan bertahan lama.
Ada yang bilang "seleksi alam" ada pula yang bilang hukum karma.

Yah tapi itu smua lagi-lagi bukan urusanku. Karena aku percaya bahwa Dia mengajarkan kasih kepada kita. Kasih untuk mengampuni orang yang bahkan secara manusiawi ga pantes buat dipikirin sama sekali.
Tapi lagi-lagi dengan ketenangan dan kelembutan-Nya, Dia tak pernah lelah menggerakkan hatiku
Mencairkan kebekuan dalam hatiku, yang apabila aku tidak mengijinkan Tuhan berbuat demikian pastilah aku menjadi orang yang sangat-sangat menyebalkan.

Tuhan mau mengampuni mereka, kenapa aku tidak? Tapi Tuhan jika aku sudah berusaha mengampuni namun mereka tak pernah jera dan tetap berbuat jahat padaku, dengan alasan apakah aku harus tetap mengampuni mereka?

Tuhan menjawab dengan penuh kasih "Dengan alasan cinta.."

Hmm.. Tuhan bisa tetap mencintai mereka bagaimana pun mereka, lalu mengapa aku tidak bisa?
Ya! Karena aku bukan Tuhan!

Tapi aku mau berusaha Tuhan.. Karena aku ingin Engkau ada dalam hatiku.. dan dengan segala kemarahanku, itu akan menjauhkan aku dari Sang Kasih.

Kenapa cuma karena kerikil kecil ini saja aku jadi mengorbankan Yesusku?

Yah aku punya sahabat-sahabat yang jauh lebih baik yang selalu mendoakan dan mencintaiku apa adanya aku, yang mengenalku dengan kasih. Sahabat yang dipercayakan Tuhan untuk menjaga dan menghapus air mataku ini.

Lalu mengapa aku harus lebih mendengarkan mereka?

Aku cukup dewasa untuk dapat membedakan "dia menegurku karena dia mencintaiku atau dia menegurku karena alasan-alasan pribadinya"

Tapi lagi-lagi Tuhan mengajarkan aku untuk selalu melihat sisi postitif dari segala sesuatu yang menimpaku.
dan berulang kali pula aku protes kepada-Nya.
berulang kali pula Dia memelukku dan meyakinkanku kembali.

Bahwa ini semua merupakan sebuah proses untuk membentuk dan memurnikan aku.

Selamanya aku mencintai-Mu :)