Minggu, 21 April 2013

Panggilanku, panggilanmu

Minggu kemarin, 21 April 2013 yang bertepatan dengan hari Kartini merupakan minggu panggilan. Minggu di mana para umat yang terpanggil untuk hidup selibat demi cintanya kepada Tuhan diingatkan kembali. Maka dari itu tidak asing apabila minggu kemarin ekaristi diisi dengan kotbah, drama, video, atau beberapa hal lain yang bertujuan untuk mengingatkan umat atas panggilan Allah.

Sesuai ayat dalam injil Matius19:11-12 yang mengatakan bahwa:
"Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja.Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti."

Menurutku sendiri, panggilan merupakan suatu misteri. Misteri di mana ketika kita mencoba meyakini bahwa itu suara Tuhan, di sisi yang sama suara lain berkata bahwa itu mungkin hanya fantasi kita. Meskipun jika dipikir lebih dalam, jarang sekali orang yang mau untuk hidup tidak menikah, terikat aturan, hidup melulu dalam biara dan komunitas. Namun itulah suara-suara yang menemani perjalanan hidup seseorang. Tinggal bagaimana kita berserah kepada Tuhan atas keterbatasan kita dalam memahami suara-suara tersebut. Pembedaan roh. 

Itu semua rahmat, dan perlu diingat bahwa Tuhan mahabaik. Dia tidak akan membiarkan anak-Nya mencari dalam kegelapan dan ketersesatan, yakin bahwa Dia menuntun. Tugas kita hanyalah percaya.

Tidak ada yang salah dengan pilihan hidup seseorang. Menikah, tidak menikah, atau hidup selibat itu semua bisa dikatakan pilihan. Pilihan untuk beberapa orang, dan keharusan untuk sebagian kecil orang.

Minggu panggilan bagiku ialah minggu yang sangat berarti dan berbeda. Di mana kehausanku akan sesuatu yang berbau 'mengingatkan' kembali terpenuhi di tengah riuh dunia. Ada kerinduan yang mendalam di hatiku untuk mempersembahkan hidupku secara total kepada Tuhan, kepada Bapa kepada Kekasihku. Kerinduan untuk hidup dalam keheningan dan doa, hidup seutuhnya untuk mendoakan setiap jiwa dan dunia, hidup untuk mempersembahkan setiap waktuku kepada-Nya. Meskipun aku ini hina untuk-Nya, namun dengan kekuatan cinta-Nya, Dia telah mempersembahkan sebuah rahmat kerinduan dalam hatiku.

Tentu tidak ada yang mudah. Ketika aku tetap harus tinggal di suatu tempat di mana segala sesuatu yang berbau duniawi dan bertolak belakang dengan kerinduanku, ketika aku harus membuka hati untuk memahami dunia sesungguhnya.. Ada sedikit pergolakan dalam menjalani panggilan hidupku, di mana ketika aku ingin belajar dengan rajin dan mencapai IP tinggi, pekerjaan yang mampu menghantarkanku pada kekayaan, dan kebanggaan atasnya, di sisi yang sama aku ingin lebih menjalani hidupku dengan berfokus pada kasih, doa, dan apa yang seharusnya kulakukan untuk Tuhan dan orang lain.

Namun, ternyata pengertianku salah. Kehidupan duniawi dan Ketuhanan bukanlah dua hal yang bertolak, justru karena adanya relasi dengan Tuhan, aku mampu menjalani duniaku dengan baik. Sebenarnya belajar rajin juga merupakan persembahan kasih bagi Tuhan, setiap apa yang kita lakukan bisa menjadi persembahan bagi Tuhan jika motivasinya demikian. Perbuatan dikatakan buruk apabila perbuatan tersebut mulai menjurus pada hal-hal yang merugikan dan tidak sesuai dengan hukum kasih.

Dan saat inilah aku mulai menjalani hidupku dengan kesadaran dan dengan sesuatu yang sungguh-sungguh hidup. Magis. Better. Semakin. Ini semua tak terlepas dari keberadaan seseorang yang kurasa selalu mendokan setiap langkah hidupku, seseorang yang selamanya kukasihi, i hope u read this my best, this is you.. dan masku tersayang yang selalu setia mendengarkan seluruh pergulatanku.

Aku mengasihimu..

dan cinta Tuhan telah menghidupiku.

Jumat, 19 April 2013

Hanya tentang Kebahagiaan




Puncak, Bogor 19/11/12
Pak Dedi menjual bakso keliling
di Cisarua untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

 Oh kalo bahagia itu ga diliat kaya miskinnya neng” sahut bapak berumur 50 tahun yang bernama Pak Dedi, “Seperti saya ini bukan orang kaya, tapi saya tenang, saya ya cuman jualan bakso keliling saja”. Bahagia menurut Pak Dedi tidak diukur dari seberapa banyak uang yang dimiliki, seberapa sukses pekerjaan yang mampu menghasilkan uang yang berkelimpahan. Bahagia menurut bapak 5 anak ini ialah tercukupinya kebutuhan sehari-hari. Dengan profesi sebagai penjual bakso keliling di daerah Cisarua, Bogor, beliau mampu menyatakan diri seolah “aku tetap bahagia, meskipun uangku tak banyak”

Bapak asal Yogyakarta yang memutuskan pindah ke Bogor sejak tahun 1976 ini dengan senyum gembira menjawab setiap pertanyaan, seakan tak ada beban yang ditanggung. Beliau dengan bangga menunjukkan foto anaknya yang mampu berkuliah di PELNI karena ketekunan yang selalu diajarkan sejak kecil. Terlihat rasa bangga yang menyala-nyala ketika beliau melanjutkan cerita mengenai keberhasilan anak-anaknya yang lain. Kebanggaan yang sangat besar bagi beliau di tengah kerasnya dunia. “Bapak bilang ya neng, selama neng masih dibiayain sekolah sama orang tua, jangan sampe aneh-aneh ya. Belajar yang tekun, jangan ngecewain mereka. Ini bapak bilang semoga berguna, seumpama ga berguna ya ga apa-apa”, ujar Pak Dedi sembari menuangkan kuah bakso ke dalam mangkok.

Begitu banyak perbedaan dalam menjalani kehidupan. Ada yang dengan penuh, berjuang dan bersyukur, ada yang hanya menjalani kehidupan apa adanya; tanpa mampu merefleksikan apa yang telah dicapai atau apa yang harus dilakukan untuk hari depan, ada yang selalu mengeluh dan berpikiran bahwa kebahagiaan itu hanya dapat dirasakan oleh orang-orang kaya, sehingga tak ada semangat lagi bagi mereka untuk mencapai kebahagiaan. Karena merasa menjadi kaya sangat jauh dari kehidupan mereka saat ini. Seperti bapak Arsid berumur 40 tahun yang bekerja menjadi penjual buah di daerah Cisarua, beliau dengan tegas mengatakan bahwa kebahagiaan hanya untuk orang-orang kaya. “Orang kecil seperti saya ini ya serba kekurangan, masa bisa dibilang bahagia. Penghasilan aja dikit, apa-apa kurang, serba susah”.

Pak Arsid, penjual buah yang mampu mengontrak kios untuk berjualan buah merasa hidupnya serba kekurangan dan telah menjudge dirinya sendiri beserta seluruh kehidupannya bahwa tak mungkin kebahagiaan berpihak padanya. Sedangkan Pak Dedi seorang penjual bakso keliling yang tetap harus berjalan untuk menjajakan baksonya meskipun Bogor diguyur hujan mengatakan hal yang sebaliknya. Pertanyaannya ialah apakah kebahagiaan itu? Mengapa begitu banyak latar belakang yang pada akhirnya membawa kebahagiaan ini sendiri pada pengertian yang dapat jauh berbeda?

Kebahagiaan ialah keadaan di mana seseorang mampu merasa lega, bangga, damai yang sulit untuk digambarkan dan berubah-ubah menurut peredaran waktu, dan menurut peristiwa yang dialami. Ada orang yang bahagia jika mendapat makanan, ada orang yang bahagia jika dipromosikan oleh perusahaan, dan ada juga orang yang bahagia jika mendapat nilai bagus. Kebahagiaan dapat dikatakan timbul jika terpenuhinya kebutuhan seseorang. Namun, kebutuhan ini terus menanjak dan seringkali hal-hal yang diinginkan diyakini sebagai kebutuhan. Sehingga semakin lama semakin banyak orang yang merasa tidak bahagia jika apa yang mereka yakini sebagai kebutuhan tidak dapat terpenuhi. Selain hal itu, ada juga orang yang bahagia jika dalam kondisi aman, sehat, meskipun tidak mendapat nilai bagus, atau tidak dipromosikan. Orang-orang macam ini lebih menekankan diri pada hal-hal yang tidak terlihat namun mampu membawa mereka ke situasi yang damai.

Orang Yunani kuno menyebut kebahagiaan dengan eudaimonia, yakni tujuan hidup. Aristoteles dalam bukunya yang berjudul “Nichomachean Ethics” menyatakan bahwa kebahagiaan harus disamakan dengan aktivitas, yakni mencari dan terus menjalani kebahagiaan (aktivitas) dan bukanlah sesuatu yang dianggap selesai ketika sudah dicapai. Menurut Aristoteles, manusia harus menjalani aktivitasnya (akal budi) menurut keutamaan (virtue), dan membuat menjadi bahagia. Kebahagiaan tidak terletak pada pengertian menikmati hasil atau prestasi, tetapi lebih dari itu, yakni pada karakter kontemplasi rasional sebagai suatu aktivitas manusia untuk mengalami pencerahan.

Dalam hal ini, Aristoteles mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak memiliki arti sempit, yaitu kebahagiaan karena tercapainya kebutuhan, atau pun bahkan keinginan seseorang. Tidak pula mengajarkan bahwa kebahagiaan yang mampu membuat seseorang merasa damai, dan hanya berhenti pada soal rasa saja. Aristoteles berbicara mengenai kebahagiaan yang lebih dalam, bahwa kebahagiaan itu ada di setiap aktivitas kita, dan kita perlu untuk menyadari hal itu. Karena kita memiliki akal budi dan sudah selayaknya kita mampu menyadari setiap aktivitas kita dengan perasaan bahagia. Aktivitas berjalan di setiap saat, begitu pula dengan kebahagiaan yang diajarkan oleh Aristoteles.

Kebahagiaan tidak selesai ketika seseorang telah berhasil mencapai apa yang dikehendakinya, apa yang dibutuhkannya, atau bahkan apa yang sebenarnya tidak dibutuhankan, namun diinginkan olehnya karena berbagai macam alasan. Aristoteles mengajarkan untuk menjalani aktivitasnya seturut keutamaan, yakni hal-hal yang paling utama yang memang sudah seharusnya diraih. Kebahagiaan ialah ketika seseorang mampu menyadari dalam keadaan tenang bahwa setiap aktivitas yang dilakukannya merupakan suatu hal yang membahagiakan.

Pada dasarnya setiap orang memiliki pribadi yang unik dalam memutuskan suatu kebahagiaan. Persoalan kebahagiaan dalam kehidupan menjadi titik utama dalam menjalani hari-hari, karena seperti kita tahu bahwa hari-hari kita, disitulah kehidupan kita berada. Pola pikir yang terkait erat dengan kepribadian seseorang mempunyai sumbangsih yang besar dalam ‘kemana kita akan membawa kehidupan kita nantinya’, kebahagiaankah? atau sebaliknya? Pengarahan kebahagiaan ini secara tidak langsung telah menentukan apakah saya hidup bahagia atau apakah saya hidup tidak bahagia.

Perbedaan sikap dari masing-masing individu merupakan suatu keputusan dari persoalan yang selama ini menemani hari-hari mereka. Lalu, adakah faktor-faktor yang mempengaruhi mereka ini dalam proses pemutusan persoalan tersebut? Tentu jawabannya ialah iya, berbagai faktor telah mendorong, membawa, dan memaksa mereka untuk turut ikut dalam apa yang ditawarkan oleh faktor tersebut. Faktor eksternal, misalnya keluarga berpengaruh cukup besar terhadap pembentukan kepribadian seseorang selain faktor lingkungan, faktor budaya, dan faktor masyarakat.

Faktor keluarga yang dimaksud dalam hal ini ialah bagaimana sikap orang tua, pasangan hidup, anak, atau pun saudara terhadap individu tersebut. Orang tua yang menurunkan pola pikir A kepada anak, akan membuat anak tumbuh dengan pola pikir A, pasangan hidup yang selalu menuntut agar terpenuhinya kebutuhan sehari-hari dengan menggambarkan bahwa kesuksesan telah diraih jika mampu membiayai keluarga dengan baik dan tanpa kekurangan, menjadi salah satu faktor dalam pembentukan pola pikir. Seseorang yang awalnya berpikir kebahagiaan bisa dicapai dengan cara lain-tanpa mengenyampingkan terpenuhinya kebutuhan sehari-hari, menjadi berubah. Lama-kelamaan mereka akan terpengaruh oleh ocehan orang-orang di sekitar, yakni jika tidak tercukupi dengan baik-tanpa mengalami hambatan- maka seseorang tersebut tidak bisa dikatakan sukses, dan bahagia akan menjauhi mereka.

Selain faktor ekternal di atas, ada juga faktor lain yang berperan sebagai pemegang kemudi, yakni faktor yang memutuskan kemana mereka akan di bawa. Jika seseorang dibawa oleh faktor-faktor eksternal untuk menuju ke jalan A, namun si pemegang kemudi tidak mengijinkan, maka kendaraan tidak akan berjalan sesuai perintah faktor eksternal. Inilah yang disebut faktor internal, di mana seseorang memiliki keyakinan dan ketegasan yang kuat dalam menebas hal-hal apa saja yang tidak baik untuk pembentukan kepribadian mereka. Faktor internal ini memiliki peran yang besar pada akhirnya, yaitu apakah mereka mau mengikuti dan mau ikut mempercayai apa yang orang lain atau lingkungan berikan, atau pun sebaliknya mereka meninggalkan hal-hal itu dan kembali meyakini apa yang telah ada dalam diri mereka dulu, atau bahkan menemukan hal baru untuk diyakini.
Jadi, pada intinya kebahagiaan ditentukan oleh sebesar apa seseorang itu bersedia untuk berusaha mencintai aktivitas mereka. Bukan masalah sebanyak apa harta kekayaan mereka, namun sebesar apa mereka mampu menyadari bahwa mereka harus bersyukur dan mencoba berpikir tetap tenang dalam menjalani hari-harinya. Mencintai aktivitas mereka, dan mulai hidup dengan sesuatu yang baru, yaitu hidup yang diliputi dengan kebahagiaan.

Kamis, 18 April 2013

dormi dormi

We call us "5 DETEKTIF"

 



 Brenda, Rommy Tina, Dayen, Shinta, dan Ayu
 With my lovely roomy "Septina Cahayani"

 Bersama Dayenku yang unyu, tetanggaku yang paling bawel :D


Rabu, 17 April 2013

Asramaku, sesaat kehidupanku

Sebagian mahasiswi di STIKS Tarakanita tinggal di sebuah asrama yang tergabung secara langsung dengan kampus, kapel, dan rumah para biarawati kongregasi CB. Aku merupakan salah satu diantara 96 mahasiswi yang memutuskan menghabiskan separuh waktu dari kuliah kami tinggal di sebuah asrama bernama Asrama Mediatrix. Asrama ini terbagi atas 4 blok/ rumah. masing-masing rumah memiliki nama tersendiri; Theresa, Emma, Lidya, dan Elisabeth. Satu blok terdiri dari 12 kamar yang masing-masing kamar bisa ditempati oleh 2 orang. Aku tinggal di blok Theresa, lebih tepatnya Theresa kamar 5. Sebuah kamar yang kutempati sejak semester 1.

Suka duka tinggal di asrama, yah aku akan memulai dengan hal-hal yang kusebut "cobaan atau hal-hal yang membuat senyumku terhambat" haha.. duka, yah di saat teman-temanku yang lain (yang tidak tinggal di asrama, entah itu tinggal bersama keluarga mereka atau tinggal di sebuah kos-kosan) bisa menjalani hidup mereka sesuai pilihan mereka (tentunya dengan berbagai pertimbangan, jika aku memandang dari sudut akulah yang menjadi mereka), aku harus menjadi formandi dari berbagai aturan yang dibuat oleh para biarawati. Meskipun kutahu pasti bahwa semua aturan yang mereka buat ditujukan untuk kebaikanku-kami-, namun secara disadari atau tidak disadari semua itu sedikit menghambat kekreatifan kita dalam menjalani sebuah kehidupan. Seolah semua sudah tertata rapi, dan kita hanya diposisikan sebagai seseorang yang mau tidak mau harus menjalani itu.

Ada tipe orang yang hanya mengikuti saja, menjalani setiap aturan dengan baik, namun disisi lain dan diwaktu yang hampir bersamaan dia akan mengeluh atau bahkan mencaci maki keadaan tersebut, tipe orang yang tidak bisa atau lebih tepatnya tidak mau berbuat apa-apa atas sesuatu yang tidak dia sukai. Ada juga tipe orang yang dengan wajah bersuka menjalani setiap aturan dengan alasan "pencitraan dirinya di mata orang lain menuntutnya untuk berlaku demikian", ada juga orang yang bahkan dia tidak tau untuk apa peraturan itu dibuat dan mengapa dia harus mengikuti aturan tersebut, berjalan dengan baik dan tanpa arti. Ada orang yang dengan sadar mengikuti setiap aturan karena dia meyakini bahwa semua itu untuk kebaikannya, tanpa manyadari bahwa "aku harus mencoba berpikir dan bertindak secara mandiri, terlepas dari hal-hal yang telah ditentukan oleh orang lain", dan ada juga tipe orang yang mau mengikuti peraturan tersebut dengan berbagai pertimbangan. Pertimbangan bahwa jika aku mengikuti peraturan tersebut apa dampak positif dan negatifnya bagi diriku dan perkembanganku, tentunya tipe orang ini tidak akan selalu berlaku taat dan mengikuti setiap kemauan yang diharapkan orang lain terjadi dalam dirinya.

Kurasa aku tipe orang terakhir.

Suka yang kurasakan di asrama begitu banyak. Teman-teman yang selalu membuatku tertawa dan menemaniku di berbagai situasi. Teman-teman seangkatanku, Novia Astrini, Maria Bernadetta, Elisabeth Novitasari, dan Ahnnes Louise, atau kami biasa menyebut diri kami 5 DETEKTIF. Persahabatan kami bukanlah sesuatu yang sempurna, namun cukuplah untuk dapat menyegarkan setiap kejenuhan yang ditimbulkan melalui berbagai kejadian.

Aku juga mempunyai 3 orang adik yang lucu dan membuat kehidupanku di asrama menjadi lebih 'sejuk', my roomy Septina Cahayani, Yashinta Ariati, dan Ayu Mutiara Dewi. Aku yang memang tidak memiliki adik kandung menjadi lebih kaya karena kehadiran mereka.

Oh iya aku juga memiliki 2 orang sahabat yang menyebalkan haha, mereka ialah Novie Liany dan Astrid Lumban Gaol, tak jarang kami bertengkar. Namun kekeraskepalaan kami itulah yang menyatukan kami, diikuti dengan beberapa kisah cinta yang turut menyegarkan kehidupan kami.

Dan tentunya 3 ekor anjing yang sangat kusayangi, bernama AB (eibi), Coklat, dan Blacky :)


Setiap kisah menjadi indah jikalau kita mampu memaknai hal tersebut, dan tentunya akan lebih baik jika kita fokus pada hal-hal yang menumbuhkan efek positif bagi diri kita, dan mulai menjadikan efek yang semula terlihat negatif menjadi sesuatu yang positif bahkan jauh lebih indah daripada apa yang terlihat.

Itulah kehidupan, dan aku bersyukur atasnya.


Senin, 15 April 2013

Nilai-nilai dalam kegiatan Live In STIKS Tarakanita - November, 2012



Jimpitan, orang tua miskin ngasih satu lembar Rp 2000,00-an

Desa Ngargomulyo, Muntilan Magelang merupakan sebuah desa yang terdiri dari beberapa dusun. Terdapat kapel di beberapa dusun, karena desa ini ditempati oleh masyarakat yang mayoritas beragama Katolik. Pada tanggal 15-17 November, desa ini dijadikan sebagai tempat Live in  mahasiswi STIKS Tarakanita, didampingi oleh beberapa  Suster  dan dosen Pembina.

Live in yang dimaksud dalam hal ini ialah tinggal di rumah penduduk desa untuk merasakan kehidupan mereka, untuk turut merasakan bagaimana keluarga tersebut menjalani hari-hari mereka. Tujuan diadakannya kegiatan ini ialah untuk menumbuhkan rasa empati mahasiswa STIKS Tarakanita. Membuka mata mereka bahwa ada keadaaan di luar sana yang seolah terbalik dengan keadaan yang mereka rasakan. Sehingga dapat menjadi bahan pembelajaran dan pertimbangan terhadap kehidupan mereka nantinya.

“Rasanya seneng banget ikut live in, aku bener-bener belajar banyak hal dari 3 hari ini” ucap Puspita, salah satu mahasiswa yang mengikuti live in. Puspita mengatakan bahwa keadaan di desa benar-benar sederhana, bahkan bisa dikatakan kekurangan. Entah dari segi pendidikan yang ternyata kurang mendapat perhatian, atau pun segi perekonomian. “Selama 3 hari di sana aku selalu makan makanan yang sama, cuma tempe, sayur, nasi” tambahnya dengan mimik muka prihatin. “Sedangkan kita yang hidup di kota, setiap hari makan makanan yang enak. Kalo ga habis tinggal buang, seenaknya beli ini beli itu, ga habis juga seenaknya buang sana sini”. Hal ini seharusnya dapat menjadi  pembelajaran bagi masyarakat kota.

Ada hal yang menarik dari kekurangan mereka, Ibu Matilda Ujulawa selaku Pembina live in berkata “Di desa itu ada kebiasaan nabung bersama untuk pembangunan desa, jimpitan. Saya benar-benar trenyuh ketika melihat seorang ibu-ibu tua yang sangat sederhana mengeluarkan uang satu lembar Rp 2000,00-an untuk turut ikut serta dalam sumbangan tersebut. Dua ribu rupiah bagi kita sangat kecil nilainya, tapi bagi mereka itu besar, dan dia rela memberikan uang dua ribunya untuk kepentingan bersama”. Satu pelajaran yang didapat ialah memberi dari kekurangan.

Data yang dikumpulkan mengatakan bahwa para mahasiswa bersedia mengikuti kegiatan ini karena ingin tahu bagaimana kehidupan di desa, ingin ikut merasakan kehidupan mereka. Ternyata rasa ingin tahu ini tidak berakhir sia-sia, mereka mendapatkan banyak hal setelah mengikuti live in. Salah satunya ialah mereka mampu merefleksikan hal-hal yang mereka alami di desa. “Aku tidur di kasur yang kempes, malem-malem waktu tidur ketetesan air hujan gara-gara gentengnya bocor” ucap Bania, mahasiswa yang mengikuti live in, “jadi inget kalo di rumah, tidur tinggal tidur aja, yah kadang kita ga pernah bersyukur atas hal-hal kecil yang kita miliki”

 Nilai-nilai kemanusiaan begitu kental dalam kehidupan mereka. Tercermin dari kebiasaan penduduk yang tidak takut meninggalkan kayu bakar di tempat-tempat yang bisa dijangkau oleh penduduk lain. Tidak ada kecurigaan. Hubungan yang terjalin antara masing-masing orang pun begitu erat, “Waktu aku tanya temanku lagi di mana, eh bapak-bapak itu langsung jawab di sana neng di sawah paling ujung” ujar salah peserta live in. Masing-masing orang mengenal dengan jelas di mana letak sawah pak ini, di mana letak rumah bu itu. Bahkan ketika ada salah satu penduduk yang meninggal, mereka dengan penuh rasa persaudaraan rela berjalan begitu jauh untuk turut berbelasungkawa.

 Kegiatan live in ini dirancang dengan pola terstruktur, selain dapat merasakan kehidupan di rumah penduduk desa, mahasiswa juga diberi kesempatan untuk menikmati alam sekitar. Jelajah alam, mereka harus berjalan kira-kira 8 km sampai ke mata air Gunung Merapi di pagi-pagi buta, menyusuri sungai. Dihimpit kepenatan kota, mahasiswi pun sumringah ketika melihat-lihat pemandangan desa yang begitu asri, tanpa polusi. Tiba di mata air, mereka dapat minum dan membasuh muka. Airnya jernih dan bersih, bisa diminum.

Harapan setelah mengikuti kegiatan live in ini ialah pembentukan kepribadian yang lebih utuh, memperkuat empati, serta perubahan sikap-sikap yang kurang sesuai dengan nilai-nilai yang telah didapat. Tujuan utama kegiatan ini dapat dikatakan tercapai dengan adanya harapan bahwa empati harus diperkuat, tidak hanya sekedar berhenti pada proses tumbuh dan mati, namun lebih dari itu.

Setelah melihat hasil yang dicapai, akan dibicarakan untuk mengadakan kegiatan live in lagi tahun depan. Semoga mahasiswa STIKS Tarakanita semakin berkembang dalam moral, wawasan, dan kepribadian.