Minggu kemarin, 21 April 2013 yang bertepatan dengan hari Kartini merupakan minggu panggilan. Minggu di mana para umat yang terpanggil untuk hidup selibat demi cintanya kepada Tuhan diingatkan kembali. Maka dari itu tidak asing apabila minggu kemarin ekaristi diisi dengan kotbah, drama, video, atau beberapa hal lain yang bertujuan untuk mengingatkan umat atas panggilan Allah.
Sesuai ayat dalam injil Matius19:11-12 yang mengatakan bahwa:
"Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja.Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari
rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan
ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh
karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti."
Menurutku sendiri, panggilan merupakan suatu misteri. Misteri di mana ketika kita mencoba meyakini bahwa itu suara Tuhan, di sisi yang sama suara lain berkata bahwa itu mungkin hanya fantasi kita. Meskipun jika dipikir lebih dalam, jarang sekali orang yang mau untuk hidup tidak menikah, terikat aturan, hidup melulu dalam biara dan komunitas. Namun itulah suara-suara yang menemani perjalanan hidup seseorang. Tinggal bagaimana kita berserah kepada Tuhan atas keterbatasan kita dalam memahami suara-suara tersebut. Pembedaan roh.
Itu semua rahmat, dan perlu diingat bahwa Tuhan mahabaik. Dia tidak akan membiarkan anak-Nya mencari dalam kegelapan dan ketersesatan, yakin bahwa Dia menuntun. Tugas kita hanyalah percaya.
Tidak ada yang salah dengan pilihan hidup seseorang. Menikah, tidak menikah, atau hidup selibat itu semua bisa dikatakan pilihan. Pilihan untuk beberapa orang, dan keharusan untuk sebagian kecil orang.
Minggu panggilan bagiku ialah minggu yang sangat berarti dan berbeda. Di mana kehausanku akan sesuatu yang berbau 'mengingatkan' kembali terpenuhi di tengah riuh dunia. Ada kerinduan yang mendalam di hatiku untuk mempersembahkan hidupku secara total kepada Tuhan, kepada Bapa kepada Kekasihku. Kerinduan untuk hidup dalam keheningan dan doa, hidup seutuhnya untuk mendoakan setiap jiwa dan dunia, hidup untuk mempersembahkan setiap waktuku kepada-Nya. Meskipun aku ini hina untuk-Nya, namun dengan kekuatan cinta-Nya, Dia telah mempersembahkan sebuah rahmat kerinduan dalam hatiku.
Tentu tidak ada yang mudah. Ketika aku tetap harus tinggal di suatu tempat di mana segala sesuatu yang berbau duniawi dan bertolak belakang dengan kerinduanku, ketika aku harus membuka hati untuk memahami dunia sesungguhnya.. Ada sedikit pergolakan dalam menjalani panggilan hidupku, di mana ketika aku ingin belajar dengan rajin dan mencapai IP tinggi, pekerjaan yang mampu menghantarkanku pada kekayaan, dan kebanggaan atasnya, di sisi yang sama aku ingin lebih menjalani hidupku dengan berfokus pada kasih, doa, dan apa yang seharusnya kulakukan untuk Tuhan dan orang lain.
Namun, ternyata pengertianku salah. Kehidupan duniawi dan Ketuhanan bukanlah dua hal yang bertolak, justru karena adanya relasi dengan Tuhan, aku mampu menjalani duniaku dengan baik. Sebenarnya belajar rajin juga merupakan persembahan kasih bagi Tuhan, setiap apa yang kita lakukan bisa menjadi persembahan bagi Tuhan jika motivasinya demikian. Perbuatan dikatakan buruk apabila perbuatan tersebut mulai menjurus pada hal-hal yang merugikan dan tidak sesuai dengan hukum kasih.
Dan saat inilah aku mulai menjalani hidupku dengan kesadaran dan dengan sesuatu yang sungguh-sungguh hidup. Magis. Better. Semakin. Ini semua tak terlepas dari keberadaan seseorang yang kurasa selalu mendokan setiap langkah hidupku, seseorang yang selamanya kukasihi, i hope u read this my best, this is you.. dan masku tersayang yang selalu setia mendengarkan seluruh pergulatanku.
Aku mengasihimu..
dan cinta Tuhan telah menghidupiku.