Rabu, 09 Oktober 2013

sebuah rangkaian

Semua kisah itu seolah tertutup oleh sebuah cinta yang berbeda
Kisah lama yang akan tetap selalu ada
Akankah benar jika kusebut "Kisah Lama"?
Akankah benar bahwa kisah pertama akan tertutup oleh kisah kedua, dan demikianlah seterusnya?
Jika iya, untuk apakah rentetan kisah itu muncul?

Bukankah itu hanya memperpanjang kisah akhir?
Oh kisah akhir, demikianlah aku menyebutnya
Sebutan yang secara tidak langsung memang harus ada rentetan kisah sebelumnya..

Cinta untuk selamanya
Bagaimana aku harus mempersembahkan cinta yang utuh dan abadi di setiap kisahnya?
Bukankah itu menjadi sesuatu yang tidak adil bagi kisah sekarang jika cinta tetap ada untuk kisah sebelumnya?
Atau bagaimana aku harus membawa "cinta lamaku?"

Dilema, cinta membuat hidup kita semakin nyata
Cinta membuat warna hidup kita semakin beragam
Cinta yang sesekali membisikan kelembutan di hati kita
Cinta yang membuat hidup tidak hanya sekedar bernafas..

Mengapa harus ada beberapa cinta?
Mengapa harus ada pembagian di sana?
Alangkah bahagianya jika cinta terfokus pada satu titik, satu kisah
Mengapa rasa yang ditimbulkan dari kisah lama tidak kunjung hilang?
Dengan cara demikianlah aku harus bertumbuh?
Atau bagaimana? Ataukah semua tergantung pada keputusanku untuk mengubur "kisah lamaku" dan mulai mempersembahkan seluruh cintaku pada "kisah saat ini ku"?

Kekasihku, bagaimana?

Desiran angin mengingatkanku pada keharuman kisah kita
Pada kelembutan belaianmu
Pada kasihmu yang selalu membuatku merasa betapa miskinnya diriku apabila Tuhan tidak mengijinkan kita bertemu dan merajut kasih ini
Pada tatapan matamu yang membuatku harus mengerti "muara cinta kita"
Pada ketegasanmu atas diriku.. atas dirimu.. atas cinta kita..

Tidak!
Tidaklah boleh demikian adanya
Haruskah aku menutup segalanya?
Cintaku tak lagi hanya untukmu
Cintaku telah bertumbuh untuknya..
Untuknya yang mampu menarikku keluar dari zona kenyamanan cinta kita
Untuknya yang mencintaiku
Untuknya yang kukasihi

Demikianlah Tuhan membimbing setiap jalanku
Dan mempertemukan jiwa ini dengan dua jiwa yang berpengaruh besar pada kedewasaan diriku
Jiwa yang kucintai
Cinta yang akan terus ada sampai pada saat Kesempurnaan nanti
Kesempurnaan Cinta hanyalah ada ketika kita sudah berada di Surga
Untuk cinta inilah aku berjuang

Oh Tuhan, betapa aku bersyukur
Betapa aku mencintai-Mu melebihi segala sesuatu
Engkaulah yang membawa mereka masuk dalam hidupku
Tidak akan kutolak, tidak akan kulepaskan
Kecuali Engkau mengharapkan demikian..

Tambahkanlah Cintaku pada-Mu Ya Tuhan, dan padanya...


Selasa, 01 Oktober 2013

Kasih, Cinta, Kita

Cinta..
Begitulah kita menyebutnya
Entah dengan ribuan definisi dan ribuan realisasi,
Namun tetaplah disebut Cinta..

Tidak berhenti sampai pada penulisan ini
Aku akan mencoba menuliskan Cintaku dan Cintanya

Cintaku,
Kumpulan energi yang meliputiku
Kumpulan kekuatan yang menumbuhkanku
Kumpulan kisah yang membentukku
Demikianlah Cinta mencapai posisi tertinggi dalam hidupku
Karena aku ada akibat Cinta

Pemaknaan akan Cinta membutuhkan Cinta
Beginilah Cinta akan terus saling terkait untuk membentuk suatu Cinta
Cintalah yang menuntun Cinta
Cintalah yang menumbuhkan Cinta
Tanpa Cinta, kita tidak pernah ada

Beralih ke Cintamu
Bagaimana kamu hidup dengan Cinta?
Bagaimana Cinta ada dalam dirimu?
Bagaimana kamu mampu Mencintaiku?
Bagaimana Cintamu tetap bertumbuh di tengah ketidakpastian Cinta?


Semua tentang Cinta, karena Cinta, akibat Cinta, dan selalu menjadi Cinta
Demikianlah kisah kita berakhir..
Berakhir pada muara Cinta Kita
Kisah Kita, Kisah Kasih-Nya

Biarlah Cinta Kita menjadi saksi Cinta Kasih Allah

Cintamu, Cintaku..

Senin, 26 Agustus 2013

Kekecilan Kita

"Ah betapa seseorang dilimpahi kedamaian yang luar biasa apabila perasaan-perasaannya telah dapat ia kendalikan"

Begitulah St. Theresia dari Lisieux berkata.

Secara kodrati sebagai seorang manusia hal-hal yang terkait dengan perasaan-perasaan duniawi memanglah sungguh sulit dikendalikan.
Ada dorongan yang sangat besar untuk mengatakan demikian, dan untuk berbuat demikian..
Jika dorongan itu hanya ada di dalam hati tanpa keluar dari mulut atau pun perbuatan, itulah yang disebut perjuangan dengan langkah awal yang sungguh teramat indah..
Perjuangan itu akan menjadi sebuah kemenangan besar ketika kita mampu mengolah perasaan kita sendiri, dan dengan seluruh kerendahan hati dan kepasrahan, kita mohon kepada Bapa untuk menggantikan keterbatasan kita dengan Kasih-Nya yang Mahabaik!

Mengingat Santo Paulus yang berkata bahwa "Kita harus bermegah atas kelemahan kita", di sinilah letak kerendahan hati.
Sadar bahwa kita hanyalah makhluk papa yang tidak dapat berbuat apa-apa tanpa Kasih Allah.
Alkitab pun memperkenalkan kita pada suatu rahmat, yang lebih ditekankan oleh St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus bahwa "Kita bahkan tidak akan mampu menyebutkan nama YESUS tanpa Rahmat Allah"

Kepapaan kita disukai Allah, karena di sinilah letak kepercayaan, kepasrahan, dan cinta kita kepada-Nya.
Dialah yang memberikan hidup kepada kita, maka kembali pada Dialah hidup dan cinta kita, bukannya bergantung pada kemampuan sendiri dan menganggap apapun yang telah diraih sebagai imbalan dari segala usaha mandiri kita. Tidaklah demikian!

Setiap perjuangan kita tidaklah terlepas dari Kasih Allah, dan dalam Amsal dikatakan bahwa semua baik adanya bila kita mencoba melaksanakan kehendak Tuhan.. yang dapat saya artikan bahwa Tuhan selalu membuka jalan dan menyertai kita jika kita mau tetap mengikuti-Nya dengan seluruh iman, pengharapan, dan kasih yang kita miliki..

Perjuangan adalah titik di mana kita menyadari Kemahakuasaan Tuhan dan kekecilan kita..

Baik adanya apabila kita mau memenuhi kehendak Allah dengan sempurna dalam hidup kita tanpa mau dihalang-halangi oleh makhluk ciptaan. Demikianlah St. Theresia Lisieux berkata.

Marilah kita semua selalu berusaha untuk melaksanakan kehendak Allah dengan seluruh kepenuhan hati.
Damailah batin kita karena kebahagiaan dan kepuasan-Nya atas kekecilan kita.

Minggu, 02 Juni 2013

To save my soul

Bosan, bukan bukan itu yang kumaksud, meskipun itu yang seringkali kurasakan
Sebuah moment yang mengingatkan aku pada perkataanmu
"Jika kita sedang bosan, bete, sedih, kesal, senang, lega, puas, bangga, khawatir, dan sgala macam jenis perasaan itu.. Bersyukurlah. Rasakan tiap detail kekuatan yang menerpamu, berdiamlah, rasakan, dan nikmatilah. Nikmati sampai pada titik kamu harus beranjak dan segera beralih ke perasaan lain yang sedang menantimu"

Ketidakstabilan perasaanku ini seringkali membuatku lelah
Begitu cepatnya perasaan ini berubah
Bahkan dalam hitungan detik sekali pun semua bisa berubah

Perkataanmu merupakan salah satu motivasiku dalam menjalani dan merasakan setiap rasa
Dan satu lagi..

"God breaks our spirit to save our soul"

Ketika aku sedang berbahagia, aku merindukan penderitaan itu
Penderitaan yang memampukan aku dalam menghadapi kejadian setelah proses panjang menjenuhkan
Rahmat, karunia ada melalui hal-hal yang tersembunyi
Dan jadilah padaku suatu kerinduan untuk mempersembahkan setiap perasaan tidak menyenangkan ini

Meskipun yah lagi-lagi ketika Tuhan sungguh-sungguh memberikan cobaan bagiku, aku mulai tidak mengerti jalan-Nya dan seringkali mengeluh
Namun Tuhan itulah aku, Engkau mengerti segala kelemahan, keterbatasanku

Dan Engkau tetap mencintaiku, melebihi siapa pun.

Cinta-Mu menguatkan aku, yang kubutuhkan hanyalah kekuatan dari-Mu, cinta-Mu..
Kekuatan untuk menatap detik setelah detik ini
Tidak terlalu jauh, hanya sepenggal-penggal dari perjalanan hidupku

Bersabarlah Tuhan, aku sedang mempersiapkan sebuah persembahan bagi-Mu..

Rabu, 29 Mei 2013

Rasa, Cinta, Kita

Rasa ialah akan tetap menjadi sebuah rasa jika demikianlah kita menghendakinya.
Yang jadi pertanyaan ialah apalah definisi dari rasa itu sendiri?

Saat ini, dengan beribu rasa yang memenuhi hatiku, aku berucap kepada Allahku
Berucap agar Dia dengan seluruh cinta kasih-Nya kepadaku mampu memampukan aku dalam mengenali dan mengolah rasa ini.

Tidak ada rasa yang tidak boleh ada selama itu semua berasal dari Sang Kuasa,
Namun sampai pada waktu mana rasa itu dibiarkan berjalan dan hidup, itulah yang harus kita pertanyakan..

Rasa membawa kita pada suasana, dan suasana membawa kita pada pengolahan diri
Pengolahan yang bagaimana? Entahlah

Ketika aku bahkan belum bisa menemukan definisi dari rasa itu sendiri, aku tidak mampu berbuat apa-apa
Dan hanya menjalani tapak demi tapak dengan pertanyaan, pengharapan, dan sedikit pengendalian ketika rasa itu mulai berkecamuk tiada henti

Kunikmati rasa ini, tetaplah kuberdiam dan merasakan dengan rasa yang tetaplah menjadi sebuah rasa
Rasa yang mungkin bisa menjadi sebuah cinta jika demikianlah Ayahku menghendakinya,
Keputusan-Nya ialah kebebasanku
dan kebebasanku ialah milik-Nya..
yang sungguh kutakutkan ialah mengikuti kehendakku sendiri..

Rasa
Kembali ke sebuah rasa
Yang pada akhirnya akanlah tetap menjadi sebuah rasa

Demikianlah aku dan rasaku saat ini
Dengan seluruh kekuatan dan cintaku untuk menikmati dan berusaha mencintai rasa ini
Tetap tinggal ialah salah satu usaha terbaik dalam proses pendewasaan
Pendewasaan rasaku dan rasamu

Kuberdoa untuk rasa ini
Rasa yang berbeda dan belum pernah kurasa sebelumnya
Semoga Tuhan memberkati setiap rasa ini sampai pada saatnya nanti
Saat ketika rasa telah terkuak dan menjadi nyata

Selasa, 07 Mei 2013

Masalah Hak dan Kasih

"Mereka punya hak buat ngomongin kamu, dan kamu punya hak buat ga dengerin mereka"

Yah ga ada yang salah dari kalimat itu, seorang sahabat yang emang tahu bagaimana aku.
Maka dia pantas berpendapat tentang aku.
Tapi seorang teman yang ga "mengenal" aku, sepertinya kurang pantas untuk berpendapat dalam bentuk apapun.

Hak, yah mereka semua punya hak buat berpendapat. Maka aku ga bilang bahwa mereka ga boleh ngomongin aku, mereka cuma kurang pantas berpendapat mengenai sesuatu yang bahkan mereka ga tau betul mengenai hal itu.

Ibarat sebuah buku. Kita hanya melihat judul, cover, ato bahkan membaca sipnosis sekali pun tapi kalo kita belum membaca keseluruhan dari isi buku itu, pendapat kita ga akan cukup mewakili isi dari buku itu yang sebenarnya.

Jadi, berbicaralah, berpendapatlah pada apa yang seharusnya kamu katakan.

Orang jahat dengan sendirinya akan tenggelam oleh kegelapannya sendiri. Ga akan bertahan lama.
Ada yang bilang "seleksi alam" ada pula yang bilang hukum karma.

Yah tapi itu smua lagi-lagi bukan urusanku. Karena aku percaya bahwa Dia mengajarkan kasih kepada kita. Kasih untuk mengampuni orang yang bahkan secara manusiawi ga pantes buat dipikirin sama sekali.
Tapi lagi-lagi dengan ketenangan dan kelembutan-Nya, Dia tak pernah lelah menggerakkan hatiku
Mencairkan kebekuan dalam hatiku, yang apabila aku tidak mengijinkan Tuhan berbuat demikian pastilah aku menjadi orang yang sangat-sangat menyebalkan.

Tuhan mau mengampuni mereka, kenapa aku tidak? Tapi Tuhan jika aku sudah berusaha mengampuni namun mereka tak pernah jera dan tetap berbuat jahat padaku, dengan alasan apakah aku harus tetap mengampuni mereka?

Tuhan menjawab dengan penuh kasih "Dengan alasan cinta.."

Hmm.. Tuhan bisa tetap mencintai mereka bagaimana pun mereka, lalu mengapa aku tidak bisa?
Ya! Karena aku bukan Tuhan!

Tapi aku mau berusaha Tuhan.. Karena aku ingin Engkau ada dalam hatiku.. dan dengan segala kemarahanku, itu akan menjauhkan aku dari Sang Kasih.

Kenapa cuma karena kerikil kecil ini saja aku jadi mengorbankan Yesusku?

Yah aku punya sahabat-sahabat yang jauh lebih baik yang selalu mendoakan dan mencintaiku apa adanya aku, yang mengenalku dengan kasih. Sahabat yang dipercayakan Tuhan untuk menjaga dan menghapus air mataku ini.

Lalu mengapa aku harus lebih mendengarkan mereka?

Aku cukup dewasa untuk dapat membedakan "dia menegurku karena dia mencintaiku atau dia menegurku karena alasan-alasan pribadinya"

Tapi lagi-lagi Tuhan mengajarkan aku untuk selalu melihat sisi postitif dari segala sesuatu yang menimpaku.
dan berulang kali pula aku protes kepada-Nya.
berulang kali pula Dia memelukku dan meyakinkanku kembali.

Bahwa ini semua merupakan sebuah proses untuk membentuk dan memurnikan aku.

Selamanya aku mencintai-Mu :)

Minggu, 21 April 2013

Panggilanku, panggilanmu

Minggu kemarin, 21 April 2013 yang bertepatan dengan hari Kartini merupakan minggu panggilan. Minggu di mana para umat yang terpanggil untuk hidup selibat demi cintanya kepada Tuhan diingatkan kembali. Maka dari itu tidak asing apabila minggu kemarin ekaristi diisi dengan kotbah, drama, video, atau beberapa hal lain yang bertujuan untuk mengingatkan umat atas panggilan Allah.

Sesuai ayat dalam injil Matius19:11-12 yang mengatakan bahwa:
"Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja.Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti."

Menurutku sendiri, panggilan merupakan suatu misteri. Misteri di mana ketika kita mencoba meyakini bahwa itu suara Tuhan, di sisi yang sama suara lain berkata bahwa itu mungkin hanya fantasi kita. Meskipun jika dipikir lebih dalam, jarang sekali orang yang mau untuk hidup tidak menikah, terikat aturan, hidup melulu dalam biara dan komunitas. Namun itulah suara-suara yang menemani perjalanan hidup seseorang. Tinggal bagaimana kita berserah kepada Tuhan atas keterbatasan kita dalam memahami suara-suara tersebut. Pembedaan roh. 

Itu semua rahmat, dan perlu diingat bahwa Tuhan mahabaik. Dia tidak akan membiarkan anak-Nya mencari dalam kegelapan dan ketersesatan, yakin bahwa Dia menuntun. Tugas kita hanyalah percaya.

Tidak ada yang salah dengan pilihan hidup seseorang. Menikah, tidak menikah, atau hidup selibat itu semua bisa dikatakan pilihan. Pilihan untuk beberapa orang, dan keharusan untuk sebagian kecil orang.

Minggu panggilan bagiku ialah minggu yang sangat berarti dan berbeda. Di mana kehausanku akan sesuatu yang berbau 'mengingatkan' kembali terpenuhi di tengah riuh dunia. Ada kerinduan yang mendalam di hatiku untuk mempersembahkan hidupku secara total kepada Tuhan, kepada Bapa kepada Kekasihku. Kerinduan untuk hidup dalam keheningan dan doa, hidup seutuhnya untuk mendoakan setiap jiwa dan dunia, hidup untuk mempersembahkan setiap waktuku kepada-Nya. Meskipun aku ini hina untuk-Nya, namun dengan kekuatan cinta-Nya, Dia telah mempersembahkan sebuah rahmat kerinduan dalam hatiku.

Tentu tidak ada yang mudah. Ketika aku tetap harus tinggal di suatu tempat di mana segala sesuatu yang berbau duniawi dan bertolak belakang dengan kerinduanku, ketika aku harus membuka hati untuk memahami dunia sesungguhnya.. Ada sedikit pergolakan dalam menjalani panggilan hidupku, di mana ketika aku ingin belajar dengan rajin dan mencapai IP tinggi, pekerjaan yang mampu menghantarkanku pada kekayaan, dan kebanggaan atasnya, di sisi yang sama aku ingin lebih menjalani hidupku dengan berfokus pada kasih, doa, dan apa yang seharusnya kulakukan untuk Tuhan dan orang lain.

Namun, ternyata pengertianku salah. Kehidupan duniawi dan Ketuhanan bukanlah dua hal yang bertolak, justru karena adanya relasi dengan Tuhan, aku mampu menjalani duniaku dengan baik. Sebenarnya belajar rajin juga merupakan persembahan kasih bagi Tuhan, setiap apa yang kita lakukan bisa menjadi persembahan bagi Tuhan jika motivasinya demikian. Perbuatan dikatakan buruk apabila perbuatan tersebut mulai menjurus pada hal-hal yang merugikan dan tidak sesuai dengan hukum kasih.

Dan saat inilah aku mulai menjalani hidupku dengan kesadaran dan dengan sesuatu yang sungguh-sungguh hidup. Magis. Better. Semakin. Ini semua tak terlepas dari keberadaan seseorang yang kurasa selalu mendokan setiap langkah hidupku, seseorang yang selamanya kukasihi, i hope u read this my best, this is you.. dan masku tersayang yang selalu setia mendengarkan seluruh pergulatanku.

Aku mengasihimu..

dan cinta Tuhan telah menghidupiku.

Jumat, 19 April 2013

Hanya tentang Kebahagiaan




Puncak, Bogor 19/11/12
Pak Dedi menjual bakso keliling
di Cisarua untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

 Oh kalo bahagia itu ga diliat kaya miskinnya neng” sahut bapak berumur 50 tahun yang bernama Pak Dedi, “Seperti saya ini bukan orang kaya, tapi saya tenang, saya ya cuman jualan bakso keliling saja”. Bahagia menurut Pak Dedi tidak diukur dari seberapa banyak uang yang dimiliki, seberapa sukses pekerjaan yang mampu menghasilkan uang yang berkelimpahan. Bahagia menurut bapak 5 anak ini ialah tercukupinya kebutuhan sehari-hari. Dengan profesi sebagai penjual bakso keliling di daerah Cisarua, Bogor, beliau mampu menyatakan diri seolah “aku tetap bahagia, meskipun uangku tak banyak”

Bapak asal Yogyakarta yang memutuskan pindah ke Bogor sejak tahun 1976 ini dengan senyum gembira menjawab setiap pertanyaan, seakan tak ada beban yang ditanggung. Beliau dengan bangga menunjukkan foto anaknya yang mampu berkuliah di PELNI karena ketekunan yang selalu diajarkan sejak kecil. Terlihat rasa bangga yang menyala-nyala ketika beliau melanjutkan cerita mengenai keberhasilan anak-anaknya yang lain. Kebanggaan yang sangat besar bagi beliau di tengah kerasnya dunia. “Bapak bilang ya neng, selama neng masih dibiayain sekolah sama orang tua, jangan sampe aneh-aneh ya. Belajar yang tekun, jangan ngecewain mereka. Ini bapak bilang semoga berguna, seumpama ga berguna ya ga apa-apa”, ujar Pak Dedi sembari menuangkan kuah bakso ke dalam mangkok.

Begitu banyak perbedaan dalam menjalani kehidupan. Ada yang dengan penuh, berjuang dan bersyukur, ada yang hanya menjalani kehidupan apa adanya; tanpa mampu merefleksikan apa yang telah dicapai atau apa yang harus dilakukan untuk hari depan, ada yang selalu mengeluh dan berpikiran bahwa kebahagiaan itu hanya dapat dirasakan oleh orang-orang kaya, sehingga tak ada semangat lagi bagi mereka untuk mencapai kebahagiaan. Karena merasa menjadi kaya sangat jauh dari kehidupan mereka saat ini. Seperti bapak Arsid berumur 40 tahun yang bekerja menjadi penjual buah di daerah Cisarua, beliau dengan tegas mengatakan bahwa kebahagiaan hanya untuk orang-orang kaya. “Orang kecil seperti saya ini ya serba kekurangan, masa bisa dibilang bahagia. Penghasilan aja dikit, apa-apa kurang, serba susah”.

Pak Arsid, penjual buah yang mampu mengontrak kios untuk berjualan buah merasa hidupnya serba kekurangan dan telah menjudge dirinya sendiri beserta seluruh kehidupannya bahwa tak mungkin kebahagiaan berpihak padanya. Sedangkan Pak Dedi seorang penjual bakso keliling yang tetap harus berjalan untuk menjajakan baksonya meskipun Bogor diguyur hujan mengatakan hal yang sebaliknya. Pertanyaannya ialah apakah kebahagiaan itu? Mengapa begitu banyak latar belakang yang pada akhirnya membawa kebahagiaan ini sendiri pada pengertian yang dapat jauh berbeda?

Kebahagiaan ialah keadaan di mana seseorang mampu merasa lega, bangga, damai yang sulit untuk digambarkan dan berubah-ubah menurut peredaran waktu, dan menurut peristiwa yang dialami. Ada orang yang bahagia jika mendapat makanan, ada orang yang bahagia jika dipromosikan oleh perusahaan, dan ada juga orang yang bahagia jika mendapat nilai bagus. Kebahagiaan dapat dikatakan timbul jika terpenuhinya kebutuhan seseorang. Namun, kebutuhan ini terus menanjak dan seringkali hal-hal yang diinginkan diyakini sebagai kebutuhan. Sehingga semakin lama semakin banyak orang yang merasa tidak bahagia jika apa yang mereka yakini sebagai kebutuhan tidak dapat terpenuhi. Selain hal itu, ada juga orang yang bahagia jika dalam kondisi aman, sehat, meskipun tidak mendapat nilai bagus, atau tidak dipromosikan. Orang-orang macam ini lebih menekankan diri pada hal-hal yang tidak terlihat namun mampu membawa mereka ke situasi yang damai.

Orang Yunani kuno menyebut kebahagiaan dengan eudaimonia, yakni tujuan hidup. Aristoteles dalam bukunya yang berjudul “Nichomachean Ethics” menyatakan bahwa kebahagiaan harus disamakan dengan aktivitas, yakni mencari dan terus menjalani kebahagiaan (aktivitas) dan bukanlah sesuatu yang dianggap selesai ketika sudah dicapai. Menurut Aristoteles, manusia harus menjalani aktivitasnya (akal budi) menurut keutamaan (virtue), dan membuat menjadi bahagia. Kebahagiaan tidak terletak pada pengertian menikmati hasil atau prestasi, tetapi lebih dari itu, yakni pada karakter kontemplasi rasional sebagai suatu aktivitas manusia untuk mengalami pencerahan.

Dalam hal ini, Aristoteles mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak memiliki arti sempit, yaitu kebahagiaan karena tercapainya kebutuhan, atau pun bahkan keinginan seseorang. Tidak pula mengajarkan bahwa kebahagiaan yang mampu membuat seseorang merasa damai, dan hanya berhenti pada soal rasa saja. Aristoteles berbicara mengenai kebahagiaan yang lebih dalam, bahwa kebahagiaan itu ada di setiap aktivitas kita, dan kita perlu untuk menyadari hal itu. Karena kita memiliki akal budi dan sudah selayaknya kita mampu menyadari setiap aktivitas kita dengan perasaan bahagia. Aktivitas berjalan di setiap saat, begitu pula dengan kebahagiaan yang diajarkan oleh Aristoteles.

Kebahagiaan tidak selesai ketika seseorang telah berhasil mencapai apa yang dikehendakinya, apa yang dibutuhkannya, atau bahkan apa yang sebenarnya tidak dibutuhankan, namun diinginkan olehnya karena berbagai macam alasan. Aristoteles mengajarkan untuk menjalani aktivitasnya seturut keutamaan, yakni hal-hal yang paling utama yang memang sudah seharusnya diraih. Kebahagiaan ialah ketika seseorang mampu menyadari dalam keadaan tenang bahwa setiap aktivitas yang dilakukannya merupakan suatu hal yang membahagiakan.

Pada dasarnya setiap orang memiliki pribadi yang unik dalam memutuskan suatu kebahagiaan. Persoalan kebahagiaan dalam kehidupan menjadi titik utama dalam menjalani hari-hari, karena seperti kita tahu bahwa hari-hari kita, disitulah kehidupan kita berada. Pola pikir yang terkait erat dengan kepribadian seseorang mempunyai sumbangsih yang besar dalam ‘kemana kita akan membawa kehidupan kita nantinya’, kebahagiaankah? atau sebaliknya? Pengarahan kebahagiaan ini secara tidak langsung telah menentukan apakah saya hidup bahagia atau apakah saya hidup tidak bahagia.

Perbedaan sikap dari masing-masing individu merupakan suatu keputusan dari persoalan yang selama ini menemani hari-hari mereka. Lalu, adakah faktor-faktor yang mempengaruhi mereka ini dalam proses pemutusan persoalan tersebut? Tentu jawabannya ialah iya, berbagai faktor telah mendorong, membawa, dan memaksa mereka untuk turut ikut dalam apa yang ditawarkan oleh faktor tersebut. Faktor eksternal, misalnya keluarga berpengaruh cukup besar terhadap pembentukan kepribadian seseorang selain faktor lingkungan, faktor budaya, dan faktor masyarakat.

Faktor keluarga yang dimaksud dalam hal ini ialah bagaimana sikap orang tua, pasangan hidup, anak, atau pun saudara terhadap individu tersebut. Orang tua yang menurunkan pola pikir A kepada anak, akan membuat anak tumbuh dengan pola pikir A, pasangan hidup yang selalu menuntut agar terpenuhinya kebutuhan sehari-hari dengan menggambarkan bahwa kesuksesan telah diraih jika mampu membiayai keluarga dengan baik dan tanpa kekurangan, menjadi salah satu faktor dalam pembentukan pola pikir. Seseorang yang awalnya berpikir kebahagiaan bisa dicapai dengan cara lain-tanpa mengenyampingkan terpenuhinya kebutuhan sehari-hari, menjadi berubah. Lama-kelamaan mereka akan terpengaruh oleh ocehan orang-orang di sekitar, yakni jika tidak tercukupi dengan baik-tanpa mengalami hambatan- maka seseorang tersebut tidak bisa dikatakan sukses, dan bahagia akan menjauhi mereka.

Selain faktor ekternal di atas, ada juga faktor lain yang berperan sebagai pemegang kemudi, yakni faktor yang memutuskan kemana mereka akan di bawa. Jika seseorang dibawa oleh faktor-faktor eksternal untuk menuju ke jalan A, namun si pemegang kemudi tidak mengijinkan, maka kendaraan tidak akan berjalan sesuai perintah faktor eksternal. Inilah yang disebut faktor internal, di mana seseorang memiliki keyakinan dan ketegasan yang kuat dalam menebas hal-hal apa saja yang tidak baik untuk pembentukan kepribadian mereka. Faktor internal ini memiliki peran yang besar pada akhirnya, yaitu apakah mereka mau mengikuti dan mau ikut mempercayai apa yang orang lain atau lingkungan berikan, atau pun sebaliknya mereka meninggalkan hal-hal itu dan kembali meyakini apa yang telah ada dalam diri mereka dulu, atau bahkan menemukan hal baru untuk diyakini.
Jadi, pada intinya kebahagiaan ditentukan oleh sebesar apa seseorang itu bersedia untuk berusaha mencintai aktivitas mereka. Bukan masalah sebanyak apa harta kekayaan mereka, namun sebesar apa mereka mampu menyadari bahwa mereka harus bersyukur dan mencoba berpikir tetap tenang dalam menjalani hari-harinya. Mencintai aktivitas mereka, dan mulai hidup dengan sesuatu yang baru, yaitu hidup yang diliputi dengan kebahagiaan.