Selasa, 07 Mei 2013

Masalah Hak dan Kasih

"Mereka punya hak buat ngomongin kamu, dan kamu punya hak buat ga dengerin mereka"

Yah ga ada yang salah dari kalimat itu, seorang sahabat yang emang tahu bagaimana aku.
Maka dia pantas berpendapat tentang aku.
Tapi seorang teman yang ga "mengenal" aku, sepertinya kurang pantas untuk berpendapat dalam bentuk apapun.

Hak, yah mereka semua punya hak buat berpendapat. Maka aku ga bilang bahwa mereka ga boleh ngomongin aku, mereka cuma kurang pantas berpendapat mengenai sesuatu yang bahkan mereka ga tau betul mengenai hal itu.

Ibarat sebuah buku. Kita hanya melihat judul, cover, ato bahkan membaca sipnosis sekali pun tapi kalo kita belum membaca keseluruhan dari isi buku itu, pendapat kita ga akan cukup mewakili isi dari buku itu yang sebenarnya.

Jadi, berbicaralah, berpendapatlah pada apa yang seharusnya kamu katakan.

Orang jahat dengan sendirinya akan tenggelam oleh kegelapannya sendiri. Ga akan bertahan lama.
Ada yang bilang "seleksi alam" ada pula yang bilang hukum karma.

Yah tapi itu smua lagi-lagi bukan urusanku. Karena aku percaya bahwa Dia mengajarkan kasih kepada kita. Kasih untuk mengampuni orang yang bahkan secara manusiawi ga pantes buat dipikirin sama sekali.
Tapi lagi-lagi dengan ketenangan dan kelembutan-Nya, Dia tak pernah lelah menggerakkan hatiku
Mencairkan kebekuan dalam hatiku, yang apabila aku tidak mengijinkan Tuhan berbuat demikian pastilah aku menjadi orang yang sangat-sangat menyebalkan.

Tuhan mau mengampuni mereka, kenapa aku tidak? Tapi Tuhan jika aku sudah berusaha mengampuni namun mereka tak pernah jera dan tetap berbuat jahat padaku, dengan alasan apakah aku harus tetap mengampuni mereka?

Tuhan menjawab dengan penuh kasih "Dengan alasan cinta.."

Hmm.. Tuhan bisa tetap mencintai mereka bagaimana pun mereka, lalu mengapa aku tidak bisa?
Ya! Karena aku bukan Tuhan!

Tapi aku mau berusaha Tuhan.. Karena aku ingin Engkau ada dalam hatiku.. dan dengan segala kemarahanku, itu akan menjauhkan aku dari Sang Kasih.

Kenapa cuma karena kerikil kecil ini saja aku jadi mengorbankan Yesusku?

Yah aku punya sahabat-sahabat yang jauh lebih baik yang selalu mendoakan dan mencintaiku apa adanya aku, yang mengenalku dengan kasih. Sahabat yang dipercayakan Tuhan untuk menjaga dan menghapus air mataku ini.

Lalu mengapa aku harus lebih mendengarkan mereka?

Aku cukup dewasa untuk dapat membedakan "dia menegurku karena dia mencintaiku atau dia menegurku karena alasan-alasan pribadinya"

Tapi lagi-lagi Tuhan mengajarkan aku untuk selalu melihat sisi postitif dari segala sesuatu yang menimpaku.
dan berulang kali pula aku protes kepada-Nya.
berulang kali pula Dia memelukku dan meyakinkanku kembali.

Bahwa ini semua merupakan sebuah proses untuk membentuk dan memurnikan aku.

Selamanya aku mencintai-Mu :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar