Puncak, Bogor 19/11/12
Pak Dedi menjual bakso keliling
di Cisarua untuk
memenuhi kebutuhan keluarga.
“Oh kalo bahagia itu ga diliat kaya miskinnya neng” sahut bapak
berumur 50 tahun yang bernama Pak Dedi, “Seperti
saya ini bukan orang kaya, tapi saya tenang, saya ya cuman jualan bakso
keliling saja”. Bahagia menurut Pak Dedi tidak diukur dari seberapa banyak
uang yang dimiliki, seberapa sukses pekerjaan yang mampu menghasilkan uang yang
berkelimpahan. Bahagia menurut bapak 5 anak ini ialah tercukupinya kebutuhan
sehari-hari. Dengan profesi sebagai penjual bakso keliling di daerah Cisarua,
Bogor, beliau mampu menyatakan diri seolah “aku tetap bahagia, meskipun uangku
tak banyak”
Bapak asal Yogyakarta yang
memutuskan pindah ke Bogor sejak tahun 1976 ini dengan senyum gembira menjawab
setiap pertanyaan, seakan tak ada beban yang ditanggung. Beliau dengan bangga
menunjukkan foto anaknya yang mampu berkuliah di PELNI karena ketekunan yang
selalu diajarkan sejak kecil. Terlihat rasa bangga yang menyala-nyala ketika
beliau melanjutkan cerita mengenai keberhasilan anak-anaknya yang lain. Kebanggaan
yang sangat besar bagi beliau di tengah kerasnya dunia. “Bapak bilang ya neng, selama neng masih dibiayain sekolah sama orang
tua, jangan sampe aneh-aneh ya. Belajar yang tekun, jangan ngecewain mereka.
Ini bapak bilang semoga berguna, seumpama ga berguna ya ga apa-apa”, ujar
Pak Dedi sembari menuangkan kuah bakso ke dalam mangkok.
Begitu banyak perbedaan
dalam menjalani kehidupan. Ada yang dengan penuh, berjuang dan bersyukur, ada
yang hanya menjalani kehidupan apa adanya; tanpa mampu merefleksikan apa yang
telah dicapai atau apa yang harus dilakukan untuk hari depan, ada yang selalu
mengeluh dan berpikiran bahwa kebahagiaan itu hanya dapat dirasakan oleh
orang-orang kaya, sehingga tak ada semangat lagi bagi mereka untuk mencapai
kebahagiaan. Karena merasa menjadi kaya sangat jauh dari kehidupan mereka saat
ini. Seperti bapak Arsid berumur 40 tahun yang bekerja menjadi penjual buah di
daerah Cisarua, beliau dengan tegas mengatakan bahwa kebahagiaan hanya untuk
orang-orang kaya. “Orang kecil seperti
saya ini ya serba kekurangan, masa bisa dibilang bahagia. Penghasilan aja
dikit, apa-apa kurang, serba susah”.
Pak Arsid, penjual buah
yang mampu mengontrak kios untuk berjualan buah merasa hidupnya serba
kekurangan dan telah menjudge dirinya
sendiri beserta seluruh kehidupannya bahwa tak mungkin kebahagiaan berpihak
padanya. Sedangkan Pak Dedi seorang penjual bakso keliling yang tetap harus
berjalan untuk menjajakan baksonya meskipun Bogor diguyur hujan mengatakan hal
yang sebaliknya. Pertanyaannya ialah apakah kebahagiaan itu? Mengapa begitu
banyak latar belakang yang pada akhirnya membawa kebahagiaan ini sendiri pada
pengertian yang dapat jauh berbeda?
Kebahagiaan ialah keadaan
di mana seseorang mampu merasa lega, bangga, damai yang sulit untuk digambarkan
dan berubah-ubah menurut peredaran waktu, dan menurut peristiwa yang dialami.
Ada orang yang bahagia jika mendapat makanan, ada orang yang bahagia jika
dipromosikan oleh perusahaan, dan ada juga orang yang bahagia jika mendapat
nilai bagus. Kebahagiaan dapat dikatakan timbul jika terpenuhinya kebutuhan
seseorang. Namun, kebutuhan ini terus menanjak dan seringkali hal-hal yang
diinginkan diyakini sebagai kebutuhan. Sehingga semakin lama semakin banyak
orang yang merasa tidak bahagia jika apa yang mereka yakini sebagai kebutuhan
tidak dapat terpenuhi. Selain hal itu, ada juga orang yang bahagia jika dalam
kondisi aman, sehat, meskipun tidak mendapat nilai bagus, atau tidak
dipromosikan. Orang-orang macam ini lebih menekankan diri pada hal-hal yang
tidak terlihat namun mampu membawa mereka ke situasi yang damai.
Orang Yunani kuno menyebut
kebahagiaan dengan eudaimonia, yakni
tujuan hidup. Aristoteles dalam bukunya yang berjudul “Nichomachean Ethics”
menyatakan bahwa kebahagiaan harus disamakan dengan aktivitas, yakni mencari
dan terus menjalani kebahagiaan (aktivitas) dan bukanlah sesuatu yang dianggap
selesai ketika sudah dicapai. Menurut Aristoteles, manusia harus menjalani
aktivitasnya (akal budi) menurut keutamaan (virtue),
dan membuat menjadi bahagia. Kebahagiaan tidak terletak pada pengertian menikmati
hasil atau prestasi, tetapi lebih dari itu, yakni pada karakter kontemplasi
rasional sebagai suatu aktivitas manusia untuk mengalami pencerahan.
Dalam hal ini, Aristoteles
mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak memiliki arti sempit, yaitu kebahagiaan
karena tercapainya kebutuhan, atau pun bahkan keinginan seseorang. Tidak pula
mengajarkan bahwa kebahagiaan yang mampu membuat seseorang merasa damai, dan
hanya berhenti pada soal rasa saja. Aristoteles berbicara mengenai kebahagiaan
yang lebih dalam, bahwa kebahagiaan itu ada di setiap aktivitas kita, dan kita
perlu untuk menyadari hal itu. Karena kita memiliki akal budi dan sudah
selayaknya kita mampu menyadari setiap aktivitas kita dengan perasaan bahagia.
Aktivitas berjalan di setiap saat, begitu pula dengan kebahagiaan yang
diajarkan oleh Aristoteles.
Kebahagiaan tidak selesai
ketika seseorang telah berhasil mencapai apa yang dikehendakinya, apa yang
dibutuhkannya, atau bahkan apa yang sebenarnya tidak dibutuhankan, namun
diinginkan olehnya karena berbagai macam alasan. Aristoteles mengajarkan untuk
menjalani aktivitasnya seturut keutamaan, yakni hal-hal yang paling utama yang
memang sudah seharusnya diraih. Kebahagiaan ialah ketika seseorang mampu
menyadari dalam keadaan tenang bahwa setiap aktivitas yang dilakukannya
merupakan suatu hal yang membahagiakan.
Pada dasarnya setiap orang
memiliki pribadi yang unik dalam memutuskan suatu
kebahagiaan. Persoalan kebahagiaan
dalam kehidupan menjadi titik utama dalam menjalani
hari-hari, karena seperti kita tahu bahwa hari-hari kita, disitulah kehidupan
kita berada. Pola pikir yang terkait erat dengan kepribadian seseorang
mempunyai sumbangsih yang besar dalam ‘kemana kita akan membawa kehidupan kita
nantinya’, kebahagiaankah? atau sebaliknya? Pengarahan kebahagiaan ini secara
tidak langsung telah menentukan apakah saya hidup bahagia atau apakah saya
hidup tidak bahagia.
Perbedaan sikap dari
masing-masing individu merupakan suatu keputusan dari persoalan yang selama ini
menemani hari-hari mereka. Lalu, adakah faktor-faktor yang mempengaruhi mereka
ini dalam proses pemutusan persoalan tersebut? Tentu jawabannya ialah iya,
berbagai faktor telah mendorong, membawa, dan memaksa mereka untuk turut ikut
dalam apa yang ditawarkan oleh faktor tersebut. Faktor eksternal, misalnya keluarga
berpengaruh cukup besar terhadap pembentukan kepribadian seseorang selain
faktor lingkungan, faktor budaya, dan faktor masyarakat.
Faktor keluarga yang
dimaksud dalam hal ini ialah bagaimana sikap orang tua, pasangan hidup, anak,
atau pun saudara terhadap individu tersebut. Orang tua yang menurunkan pola
pikir A kepada anak, akan membuat anak tumbuh dengan pola pikir A, pasangan
hidup yang selalu menuntut agar terpenuhinya kebutuhan sehari-hari dengan
menggambarkan bahwa kesuksesan telah diraih jika mampu membiayai keluarga dengan
baik dan tanpa kekurangan, menjadi salah satu faktor dalam pembentukan pola
pikir. Seseorang yang awalnya berpikir kebahagiaan bisa dicapai dengan cara
lain-tanpa mengenyampingkan terpenuhinya kebutuhan sehari-hari, menjadi
berubah. Lama-kelamaan mereka akan terpengaruh oleh ocehan orang-orang di
sekitar, yakni jika tidak tercukupi dengan baik-tanpa mengalami hambatan- maka
seseorang tersebut tidak bisa dikatakan sukses, dan bahagia akan menjauhi
mereka.
Selain faktor ekternal di
atas, ada juga faktor lain yang berperan sebagai pemegang kemudi, yakni faktor
yang memutuskan kemana mereka akan di bawa. Jika seseorang dibawa oleh
faktor-faktor eksternal untuk menuju ke jalan A, namun si pemegang kemudi tidak
mengijinkan, maka kendaraan tidak akan berjalan sesuai perintah faktor
eksternal. Inilah yang disebut faktor internal, di mana seseorang memiliki
keyakinan dan ketegasan yang kuat dalam menebas hal-hal apa saja yang tidak
baik untuk pembentukan kepribadian mereka. Faktor internal ini memiliki peran
yang besar pada akhirnya, yaitu apakah mereka mau mengikuti dan mau ikut
mempercayai apa yang orang lain atau lingkungan berikan, atau pun sebaliknya
mereka meninggalkan hal-hal itu dan kembali meyakini apa yang telah ada dalam
diri mereka dulu, atau bahkan menemukan hal baru untuk diyakini.
Jadi,
pada intinya kebahagiaan ditentukan oleh sebesar apa seseorang itu bersedia
untuk berusaha mencintai aktivitas mereka. Bukan masalah sebanyak apa harta
kekayaan mereka, namun sebesar apa mereka mampu menyadari bahwa mereka harus
bersyukur dan mencoba berpikir tetap tenang dalam menjalani hari-harinya.
Mencintai aktivitas mereka, dan mulai hidup dengan sesuatu yang baru, yaitu
hidup yang diliputi dengan kebahagiaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar