Jumat, 19 April 2013

Hanya tentang Kebahagiaan




Puncak, Bogor 19/11/12
Pak Dedi menjual bakso keliling
di Cisarua untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

 Oh kalo bahagia itu ga diliat kaya miskinnya neng” sahut bapak berumur 50 tahun yang bernama Pak Dedi, “Seperti saya ini bukan orang kaya, tapi saya tenang, saya ya cuman jualan bakso keliling saja”. Bahagia menurut Pak Dedi tidak diukur dari seberapa banyak uang yang dimiliki, seberapa sukses pekerjaan yang mampu menghasilkan uang yang berkelimpahan. Bahagia menurut bapak 5 anak ini ialah tercukupinya kebutuhan sehari-hari. Dengan profesi sebagai penjual bakso keliling di daerah Cisarua, Bogor, beliau mampu menyatakan diri seolah “aku tetap bahagia, meskipun uangku tak banyak”

Bapak asal Yogyakarta yang memutuskan pindah ke Bogor sejak tahun 1976 ini dengan senyum gembira menjawab setiap pertanyaan, seakan tak ada beban yang ditanggung. Beliau dengan bangga menunjukkan foto anaknya yang mampu berkuliah di PELNI karena ketekunan yang selalu diajarkan sejak kecil. Terlihat rasa bangga yang menyala-nyala ketika beliau melanjutkan cerita mengenai keberhasilan anak-anaknya yang lain. Kebanggaan yang sangat besar bagi beliau di tengah kerasnya dunia. “Bapak bilang ya neng, selama neng masih dibiayain sekolah sama orang tua, jangan sampe aneh-aneh ya. Belajar yang tekun, jangan ngecewain mereka. Ini bapak bilang semoga berguna, seumpama ga berguna ya ga apa-apa”, ujar Pak Dedi sembari menuangkan kuah bakso ke dalam mangkok.

Begitu banyak perbedaan dalam menjalani kehidupan. Ada yang dengan penuh, berjuang dan bersyukur, ada yang hanya menjalani kehidupan apa adanya; tanpa mampu merefleksikan apa yang telah dicapai atau apa yang harus dilakukan untuk hari depan, ada yang selalu mengeluh dan berpikiran bahwa kebahagiaan itu hanya dapat dirasakan oleh orang-orang kaya, sehingga tak ada semangat lagi bagi mereka untuk mencapai kebahagiaan. Karena merasa menjadi kaya sangat jauh dari kehidupan mereka saat ini. Seperti bapak Arsid berumur 40 tahun yang bekerja menjadi penjual buah di daerah Cisarua, beliau dengan tegas mengatakan bahwa kebahagiaan hanya untuk orang-orang kaya. “Orang kecil seperti saya ini ya serba kekurangan, masa bisa dibilang bahagia. Penghasilan aja dikit, apa-apa kurang, serba susah”.

Pak Arsid, penjual buah yang mampu mengontrak kios untuk berjualan buah merasa hidupnya serba kekurangan dan telah menjudge dirinya sendiri beserta seluruh kehidupannya bahwa tak mungkin kebahagiaan berpihak padanya. Sedangkan Pak Dedi seorang penjual bakso keliling yang tetap harus berjalan untuk menjajakan baksonya meskipun Bogor diguyur hujan mengatakan hal yang sebaliknya. Pertanyaannya ialah apakah kebahagiaan itu? Mengapa begitu banyak latar belakang yang pada akhirnya membawa kebahagiaan ini sendiri pada pengertian yang dapat jauh berbeda?

Kebahagiaan ialah keadaan di mana seseorang mampu merasa lega, bangga, damai yang sulit untuk digambarkan dan berubah-ubah menurut peredaran waktu, dan menurut peristiwa yang dialami. Ada orang yang bahagia jika mendapat makanan, ada orang yang bahagia jika dipromosikan oleh perusahaan, dan ada juga orang yang bahagia jika mendapat nilai bagus. Kebahagiaan dapat dikatakan timbul jika terpenuhinya kebutuhan seseorang. Namun, kebutuhan ini terus menanjak dan seringkali hal-hal yang diinginkan diyakini sebagai kebutuhan. Sehingga semakin lama semakin banyak orang yang merasa tidak bahagia jika apa yang mereka yakini sebagai kebutuhan tidak dapat terpenuhi. Selain hal itu, ada juga orang yang bahagia jika dalam kondisi aman, sehat, meskipun tidak mendapat nilai bagus, atau tidak dipromosikan. Orang-orang macam ini lebih menekankan diri pada hal-hal yang tidak terlihat namun mampu membawa mereka ke situasi yang damai.

Orang Yunani kuno menyebut kebahagiaan dengan eudaimonia, yakni tujuan hidup. Aristoteles dalam bukunya yang berjudul “Nichomachean Ethics” menyatakan bahwa kebahagiaan harus disamakan dengan aktivitas, yakni mencari dan terus menjalani kebahagiaan (aktivitas) dan bukanlah sesuatu yang dianggap selesai ketika sudah dicapai. Menurut Aristoteles, manusia harus menjalani aktivitasnya (akal budi) menurut keutamaan (virtue), dan membuat menjadi bahagia. Kebahagiaan tidak terletak pada pengertian menikmati hasil atau prestasi, tetapi lebih dari itu, yakni pada karakter kontemplasi rasional sebagai suatu aktivitas manusia untuk mengalami pencerahan.

Dalam hal ini, Aristoteles mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak memiliki arti sempit, yaitu kebahagiaan karena tercapainya kebutuhan, atau pun bahkan keinginan seseorang. Tidak pula mengajarkan bahwa kebahagiaan yang mampu membuat seseorang merasa damai, dan hanya berhenti pada soal rasa saja. Aristoteles berbicara mengenai kebahagiaan yang lebih dalam, bahwa kebahagiaan itu ada di setiap aktivitas kita, dan kita perlu untuk menyadari hal itu. Karena kita memiliki akal budi dan sudah selayaknya kita mampu menyadari setiap aktivitas kita dengan perasaan bahagia. Aktivitas berjalan di setiap saat, begitu pula dengan kebahagiaan yang diajarkan oleh Aristoteles.

Kebahagiaan tidak selesai ketika seseorang telah berhasil mencapai apa yang dikehendakinya, apa yang dibutuhkannya, atau bahkan apa yang sebenarnya tidak dibutuhankan, namun diinginkan olehnya karena berbagai macam alasan. Aristoteles mengajarkan untuk menjalani aktivitasnya seturut keutamaan, yakni hal-hal yang paling utama yang memang sudah seharusnya diraih. Kebahagiaan ialah ketika seseorang mampu menyadari dalam keadaan tenang bahwa setiap aktivitas yang dilakukannya merupakan suatu hal yang membahagiakan.

Pada dasarnya setiap orang memiliki pribadi yang unik dalam memutuskan suatu kebahagiaan. Persoalan kebahagiaan dalam kehidupan menjadi titik utama dalam menjalani hari-hari, karena seperti kita tahu bahwa hari-hari kita, disitulah kehidupan kita berada. Pola pikir yang terkait erat dengan kepribadian seseorang mempunyai sumbangsih yang besar dalam ‘kemana kita akan membawa kehidupan kita nantinya’, kebahagiaankah? atau sebaliknya? Pengarahan kebahagiaan ini secara tidak langsung telah menentukan apakah saya hidup bahagia atau apakah saya hidup tidak bahagia.

Perbedaan sikap dari masing-masing individu merupakan suatu keputusan dari persoalan yang selama ini menemani hari-hari mereka. Lalu, adakah faktor-faktor yang mempengaruhi mereka ini dalam proses pemutusan persoalan tersebut? Tentu jawabannya ialah iya, berbagai faktor telah mendorong, membawa, dan memaksa mereka untuk turut ikut dalam apa yang ditawarkan oleh faktor tersebut. Faktor eksternal, misalnya keluarga berpengaruh cukup besar terhadap pembentukan kepribadian seseorang selain faktor lingkungan, faktor budaya, dan faktor masyarakat.

Faktor keluarga yang dimaksud dalam hal ini ialah bagaimana sikap orang tua, pasangan hidup, anak, atau pun saudara terhadap individu tersebut. Orang tua yang menurunkan pola pikir A kepada anak, akan membuat anak tumbuh dengan pola pikir A, pasangan hidup yang selalu menuntut agar terpenuhinya kebutuhan sehari-hari dengan menggambarkan bahwa kesuksesan telah diraih jika mampu membiayai keluarga dengan baik dan tanpa kekurangan, menjadi salah satu faktor dalam pembentukan pola pikir. Seseorang yang awalnya berpikir kebahagiaan bisa dicapai dengan cara lain-tanpa mengenyampingkan terpenuhinya kebutuhan sehari-hari, menjadi berubah. Lama-kelamaan mereka akan terpengaruh oleh ocehan orang-orang di sekitar, yakni jika tidak tercukupi dengan baik-tanpa mengalami hambatan- maka seseorang tersebut tidak bisa dikatakan sukses, dan bahagia akan menjauhi mereka.

Selain faktor ekternal di atas, ada juga faktor lain yang berperan sebagai pemegang kemudi, yakni faktor yang memutuskan kemana mereka akan di bawa. Jika seseorang dibawa oleh faktor-faktor eksternal untuk menuju ke jalan A, namun si pemegang kemudi tidak mengijinkan, maka kendaraan tidak akan berjalan sesuai perintah faktor eksternal. Inilah yang disebut faktor internal, di mana seseorang memiliki keyakinan dan ketegasan yang kuat dalam menebas hal-hal apa saja yang tidak baik untuk pembentukan kepribadian mereka. Faktor internal ini memiliki peran yang besar pada akhirnya, yaitu apakah mereka mau mengikuti dan mau ikut mempercayai apa yang orang lain atau lingkungan berikan, atau pun sebaliknya mereka meninggalkan hal-hal itu dan kembali meyakini apa yang telah ada dalam diri mereka dulu, atau bahkan menemukan hal baru untuk diyakini.
Jadi, pada intinya kebahagiaan ditentukan oleh sebesar apa seseorang itu bersedia untuk berusaha mencintai aktivitas mereka. Bukan masalah sebanyak apa harta kekayaan mereka, namun sebesar apa mereka mampu menyadari bahwa mereka harus bersyukur dan mencoba berpikir tetap tenang dalam menjalani hari-harinya. Mencintai aktivitas mereka, dan mulai hidup dengan sesuatu yang baru, yaitu hidup yang diliputi dengan kebahagiaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar