“Jimpitan, orang tua
miskin ngasih satu lembar Rp 2000,00-an”
Desa Ngargomulyo, Muntilan Magelang merupakan sebuah desa
yang terdiri dari beberapa dusun. Terdapat kapel di beberapa dusun, karena desa
ini ditempati oleh masyarakat yang mayoritas beragama Katolik. Pada tanggal 15-17 November, desa ini
dijadikan sebagai tempat Live in mahasiswi STIKS Tarakanita, didampingi oleh
beberapa Suster dan dosen Pembina.
Live in yang
dimaksud dalam hal ini ialah tinggal di rumah penduduk desa untuk merasakan
kehidupan mereka, untuk turut merasakan bagaimana keluarga tersebut menjalani
hari-hari mereka. Tujuan diadakannya kegiatan ini ialah untuk menumbuhkan rasa
empati mahasiswa STIKS Tarakanita. Membuka mata mereka bahwa ada keadaaan di
luar sana yang seolah terbalik dengan keadaan yang mereka rasakan. Sehingga dapat
menjadi bahan pembelajaran dan pertimbangan terhadap kehidupan mereka nantinya.
“Rasanya seneng banget ikut live in, aku bener-bener belajar banyak hal dari 3 hari ini” ucap
Puspita, salah satu mahasiswa yang mengikuti live in. Puspita mengatakan bahwa keadaan di desa benar-benar
sederhana, bahkan bisa dikatakan kekurangan. Entah dari segi pendidikan yang
ternyata kurang mendapat perhatian, atau pun segi perekonomian. “Selama 3 hari
di sana aku selalu makan makanan yang sama, cuma tempe, sayur, nasi” tambahnya
dengan mimik muka prihatin. “Sedangkan kita yang hidup di kota, setiap hari
makan makanan yang enak. Kalo ga habis tinggal buang, seenaknya beli ini beli
itu, ga habis juga seenaknya buang sana sini”. Hal ini seharusnya dapat
menjadi pembelajaran bagi masyarakat
kota.
Ada hal yang menarik dari kekurangan mereka, Ibu Matilda
Ujulawa selaku Pembina live in
berkata “Di desa itu ada kebiasaan nabung bersama untuk pembangunan desa,
jimpitan. Saya benar-benar trenyuh ketika melihat seorang ibu-ibu tua yang
sangat sederhana mengeluarkan uang satu lembar Rp 2000,00-an untuk turut ikut
serta dalam sumbangan tersebut. Dua ribu rupiah bagi kita sangat kecil
nilainya, tapi bagi mereka itu besar, dan dia rela memberikan uang dua ribunya
untuk kepentingan bersama”. Satu pelajaran yang didapat ialah memberi dari
kekurangan.
Data yang dikumpulkan mengatakan bahwa para mahasiswa
bersedia mengikuti kegiatan ini karena ingin tahu bagaimana kehidupan di desa,
ingin ikut merasakan kehidupan mereka. Ternyata rasa ingin tahu ini tidak
berakhir sia-sia, mereka mendapatkan banyak hal setelah mengikuti live in. Salah satunya ialah mereka
mampu merefleksikan hal-hal yang mereka alami di desa. “Aku tidur di kasur yang
kempes, malem-malem waktu tidur ketetesan air hujan gara-gara gentengnya bocor”
ucap Bania, mahasiswa yang mengikuti live
in, “jadi inget kalo di rumah, tidur tinggal tidur aja, yah kadang kita ga
pernah bersyukur atas hal-hal kecil yang kita miliki”
Nilai-nilai
kemanusiaan begitu kental dalam kehidupan mereka. Tercermin dari kebiasaan
penduduk yang tidak takut meninggalkan kayu bakar di tempat-tempat yang bisa
dijangkau oleh penduduk lain. Tidak ada kecurigaan. Hubungan yang terjalin
antara masing-masing orang pun begitu erat, “Waktu aku tanya temanku lagi di
mana, eh bapak-bapak itu langsung jawab di sana neng di sawah paling ujung”
ujar salah peserta live in.
Masing-masing orang mengenal dengan jelas di mana letak sawah pak ini, di mana
letak rumah bu itu. Bahkan ketika ada salah satu penduduk yang meninggal,
mereka dengan penuh rasa persaudaraan rela berjalan begitu jauh untuk turut
berbelasungkawa.
Kegiatan live in ini
dirancang dengan pola terstruktur, selain dapat merasakan kehidupan di rumah
penduduk desa, mahasiswa juga diberi kesempatan untuk menikmati alam sekitar.
Jelajah alam, mereka harus berjalan kira-kira 8 km sampai ke mata air Gunung
Merapi di pagi-pagi buta, menyusuri sungai. Dihimpit kepenatan kota, mahasiswi
pun sumringah ketika melihat-lihat
pemandangan desa yang begitu asri, tanpa polusi. Tiba di mata air, mereka dapat
minum dan membasuh muka. Airnya jernih dan bersih, bisa diminum.
Harapan setelah mengikuti kegiatan live in ini ialah
pembentukan kepribadian yang lebih utuh, memperkuat empati, serta perubahan
sikap-sikap yang kurang sesuai dengan nilai-nilai yang telah didapat. Tujuan
utama kegiatan ini dapat dikatakan tercapai dengan adanya harapan bahwa empati
harus diperkuat, tidak hanya sekedar berhenti pada proses tumbuh dan mati,
namun lebih dari itu.
Setelah melihat hasil yang dicapai, akan dibicarakan untuk
mengadakan kegiatan live in lagi
tahun depan. Semoga mahasiswa STIKS Tarakanita semakin berkembang dalam moral,
wawasan, dan kepribadian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar