Senin, 15 April 2013

Nilai-nilai dalam kegiatan Live In STIKS Tarakanita - November, 2012



Jimpitan, orang tua miskin ngasih satu lembar Rp 2000,00-an

Desa Ngargomulyo, Muntilan Magelang merupakan sebuah desa yang terdiri dari beberapa dusun. Terdapat kapel di beberapa dusun, karena desa ini ditempati oleh masyarakat yang mayoritas beragama Katolik. Pada tanggal 15-17 November, desa ini dijadikan sebagai tempat Live in  mahasiswi STIKS Tarakanita, didampingi oleh beberapa  Suster  dan dosen Pembina.

Live in yang dimaksud dalam hal ini ialah tinggal di rumah penduduk desa untuk merasakan kehidupan mereka, untuk turut merasakan bagaimana keluarga tersebut menjalani hari-hari mereka. Tujuan diadakannya kegiatan ini ialah untuk menumbuhkan rasa empati mahasiswa STIKS Tarakanita. Membuka mata mereka bahwa ada keadaaan di luar sana yang seolah terbalik dengan keadaan yang mereka rasakan. Sehingga dapat menjadi bahan pembelajaran dan pertimbangan terhadap kehidupan mereka nantinya.

“Rasanya seneng banget ikut live in, aku bener-bener belajar banyak hal dari 3 hari ini” ucap Puspita, salah satu mahasiswa yang mengikuti live in. Puspita mengatakan bahwa keadaan di desa benar-benar sederhana, bahkan bisa dikatakan kekurangan. Entah dari segi pendidikan yang ternyata kurang mendapat perhatian, atau pun segi perekonomian. “Selama 3 hari di sana aku selalu makan makanan yang sama, cuma tempe, sayur, nasi” tambahnya dengan mimik muka prihatin. “Sedangkan kita yang hidup di kota, setiap hari makan makanan yang enak. Kalo ga habis tinggal buang, seenaknya beli ini beli itu, ga habis juga seenaknya buang sana sini”. Hal ini seharusnya dapat menjadi  pembelajaran bagi masyarakat kota.

Ada hal yang menarik dari kekurangan mereka, Ibu Matilda Ujulawa selaku Pembina live in berkata “Di desa itu ada kebiasaan nabung bersama untuk pembangunan desa, jimpitan. Saya benar-benar trenyuh ketika melihat seorang ibu-ibu tua yang sangat sederhana mengeluarkan uang satu lembar Rp 2000,00-an untuk turut ikut serta dalam sumbangan tersebut. Dua ribu rupiah bagi kita sangat kecil nilainya, tapi bagi mereka itu besar, dan dia rela memberikan uang dua ribunya untuk kepentingan bersama”. Satu pelajaran yang didapat ialah memberi dari kekurangan.

Data yang dikumpulkan mengatakan bahwa para mahasiswa bersedia mengikuti kegiatan ini karena ingin tahu bagaimana kehidupan di desa, ingin ikut merasakan kehidupan mereka. Ternyata rasa ingin tahu ini tidak berakhir sia-sia, mereka mendapatkan banyak hal setelah mengikuti live in. Salah satunya ialah mereka mampu merefleksikan hal-hal yang mereka alami di desa. “Aku tidur di kasur yang kempes, malem-malem waktu tidur ketetesan air hujan gara-gara gentengnya bocor” ucap Bania, mahasiswa yang mengikuti live in, “jadi inget kalo di rumah, tidur tinggal tidur aja, yah kadang kita ga pernah bersyukur atas hal-hal kecil yang kita miliki”

 Nilai-nilai kemanusiaan begitu kental dalam kehidupan mereka. Tercermin dari kebiasaan penduduk yang tidak takut meninggalkan kayu bakar di tempat-tempat yang bisa dijangkau oleh penduduk lain. Tidak ada kecurigaan. Hubungan yang terjalin antara masing-masing orang pun begitu erat, “Waktu aku tanya temanku lagi di mana, eh bapak-bapak itu langsung jawab di sana neng di sawah paling ujung” ujar salah peserta live in. Masing-masing orang mengenal dengan jelas di mana letak sawah pak ini, di mana letak rumah bu itu. Bahkan ketika ada salah satu penduduk yang meninggal, mereka dengan penuh rasa persaudaraan rela berjalan begitu jauh untuk turut berbelasungkawa.

 Kegiatan live in ini dirancang dengan pola terstruktur, selain dapat merasakan kehidupan di rumah penduduk desa, mahasiswa juga diberi kesempatan untuk menikmati alam sekitar. Jelajah alam, mereka harus berjalan kira-kira 8 km sampai ke mata air Gunung Merapi di pagi-pagi buta, menyusuri sungai. Dihimpit kepenatan kota, mahasiswi pun sumringah ketika melihat-lihat pemandangan desa yang begitu asri, tanpa polusi. Tiba di mata air, mereka dapat minum dan membasuh muka. Airnya jernih dan bersih, bisa diminum.

Harapan setelah mengikuti kegiatan live in ini ialah pembentukan kepribadian yang lebih utuh, memperkuat empati, serta perubahan sikap-sikap yang kurang sesuai dengan nilai-nilai yang telah didapat. Tujuan utama kegiatan ini dapat dikatakan tercapai dengan adanya harapan bahwa empati harus diperkuat, tidak hanya sekedar berhenti pada proses tumbuh dan mati, namun lebih dari itu.

Setelah melihat hasil yang dicapai, akan dibicarakan untuk mengadakan kegiatan live in lagi tahun depan. Semoga mahasiswa STIKS Tarakanita semakin berkembang dalam moral, wawasan, dan kepribadian.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar