SEBUAH KISAH CINTA
Wish I could be the one, the one who could give you love.. the kind of
love you really need.. Wish I could say to you that I'll always stay with you..
Sebait lirik lagu yang
sangat kusukai, kuharapkan, dan sebuah lagu yang setia menemani hari-hariku.
Sebuah lagu yang sebenarnya tidak kuinginkan, tidak kuharapkan, dan terkadang
kusesali. Oh, andaikan saja sebuah kata wish
bisa dihilangkan dari bait itu, itulah saat yang sungguh kutunggu-tunggu..
ketika aku dengan berani dan penuh keyakinan menyatakan padanya bahwa aku
mencintainya, bahwa aku akan selalu ada untuk menemani hari-harinya. Damar,
pria yang kucintai..
Kembali teringat suatu kenangan ketika bersama
dengannya..
“Apa
yang sedang kau lakukan?” suaranya mengagetkanku, aku menoleh ke arahnya, dan
melihat senyumnya, senyum yang tak pernah berubah sejak 10 tahun yang lalu.
Aku tersenyum ke arahnya, kuangkat telapak tanganku
untuk merasakan hujan yang sejak tadi menemaniku-atau lebih tepatnya membuatku
harus menunggu untuk melanjutkan perjalanan pulang dari sekolah.
“Ada
sesuatu yang menarik dari hujan, dari air yang jatuh dari langit”
Dia mengerutkan keningnya “Menarik?
Evaporasi?”
Aku tertawa “Tak kusangka
ternyata engkau tertarik dengan arus hujan”
Dia tertawa dan mengikutiku mengangkat telapak
tangan untuk merasakan rintik hujan, dia mulai memejamkan mata. Aku
mengikutinya, memejamkan mata untuk merasakan air yang menyentuh kulitku.
“Aha
sekarang aku tahu” aku membuka mataku dan menoleh ke arahnya, tak sabar menunggu
jawabannya.
“Apa?”
“Karena
disituasi inilah kita mampu untuk benar-benar merasakan kedamaian dan
kesejukan, di antara keramaian dunia” dia tersenyum dan menatapku “Apa aku benar?”
“Tidak
ada yang salah dari jawabanmu”
“Apakah
jawabanku sesuai dengan alasanmu menyebut hujan sebagai sesuatu yang menarik?”
Aku tersenyum, mungkin sebelum engkau berkata
seperti itu, alasan kita tak akan sama. Namun, setelah engkau berkata padaku
bahwa hujan memberikan kedamaian dan kesejukan hati, aku pun setuju denganmu.
“Sebenarnya tidak”
“Sebenarnya?
Beri tahu aku alasanmu”
“Karena
hujan memberikan suatu kekuatan lain padaku. Aku percaya di mana pun aku
berada, di mana pun kita berada, kita melihat hujan yang sama, rintik yang
sama, dan merasakan desiran angin yang sama, ruang dan waktu tak akan menjadi
masalah, Meskipun terkadang hal ini terdengar naif”
Dia terdiam. “Ada seseorang
yang membuatmu meyakini hal itu?”
Aku tersenyum, tentu saja
ada. Engkau yang membuatku yakin, meskipun aku tak selalu bersama denganmu, meskipun
aku bukanlah orang yang kau kehendaki untuk menghabiskan hari bersamamu, namun
aku percaya dan meyakini kekuatan cintaku padamu.
“Bunga?”
dia menepuk pundakku, aku menoleh dan tersenyum. Berharap senyumku mampu
membuatnya mengerti bahwa aku mencintainya. Mencintainya setulus yang kubisa.
“Iya
Damar? Oh tidak, aku hanya meyakini saja” aku berbohong “Oia, hujan sudah reda,
aku harus pulang” aku beranjak pergi. Pergi berjalan meninggalkan dia seorang
diri yang masih menatap ke arahku. Ingin aku tetap tinggal dan menghabiskan
sore itu bersamanya, namun aku harus pergi. Entah mengapa.
“Sampai
jumpa Bunga”
Aku membalas dengan melambaikan tangan dan semakin
cepat berjalan menjauh darinya, hingga tikungan membuatku hilang dari
pandangannya.
oo
Potongan kisah indahku
bersama Damar, aku menatap ke luar jendela. Menatap hujan yang mengingatkanku
kembali sosok Damar yang lembut dan menyenangkan, Damar yang membuatku merasa
bahagia, bahagia sekali pun tak ada sesuatu yang dilakukannya untukku, tak ada
sesuatu yang diucapkannya untukku. Dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku
menginginkan dia, meginginkan dia menjadi milikku seutuhnya, menghabiskan
setiap waktunya hanya bersamaku.
Namun, kurasa dalam lubuk hatiku yang terdalam
pun memiliki sesuatu yang jauh lebih dalam-yang aku sendiri pun tidak
mengetahui dengan jelas apa itu sebenarnya. Sesuatu yang membuatku mengijinkan
jika Damar memilih orang lain, wanita lain untuk menjadi pendamping hidupnya.
Aku tidak keberatan, namun aku menderita. Tidak keberatan? Atau aku terlalu
naïf dan pengecut? Entahlah aku pun tak tahu, yang kutahu ialah bahwa aku tidak
menemukan satu pun alasan untuk berhenti mencintainya.
Air
mataku menetes dan jatuh ke lantai dengan sempurna. Kembali teringat bahwa saat
ini aku tidak memiliki satu pun pilihan untuk dapat mengungkapkan perasaanku
padanya, perasaan yang telah kupendam bertahun-tahun lamanya. Perasaan yang tak
tahu datang dari mana, perasaan yang menyiksaku-namun tak akan pernah kubiarkan
pergi, perasaan yang mengikat, dan perasaan yang indah. Merina, gadis cantik
yang kuharap mampu mencintai Damar jauh melebihi aku mencintainya.
“Bunga,
buka pintunya” kudengar seseorang mengetuk pintu kamarku. Segera kuhapus air
mataku, dan beranjak membuka pintu.
“Iya
ibu, ada apa?”
“Kemarilah,
ke ruang tamu. Ibu dan ayah ingin berbicara denganmu”
Aku mengangguk dan mengikutinya.
“Duduklah
nak” ayahku berkata kepadaku sambil tersenyum, aku pun duduk dan mulai menunggu
apa yang hendak mereka bicarakan denganku.
“Bunga,
selamat ya nak” ayah menyodorkan sebuah amplop putih. Jantungku berdegup
kencang, beberapa bulan yang lalu aku mendaftar di sebuah universitas di
Inggris. Kubuka amplop itu dan mulai kubaca.. aku diterima.
“Bunga,
apa kamu serius ingin kuliah di Inggris?”
Aku terdiam. Jika aku harus
memilih, aku ingin memilih tinggal dan meneruskan pendidikan di universitas di
mana Damar berkuliah, Namun, sekali lagi dan sekali lagi.. aku harus memilih
suatu jalan yang semakin membuatku merasa tersiksa. Tersiksa karena tak akan
lagi melihat Damar tertawa, melihat Damar tersenyum, melihat dia melambaikan
tangan, dan bahkan melihat dia berjalan bergandengan tangan dengan Merina.
“Bunga
serius” aku tersenyum-mencoba tersenyum lebih tepatnya, “Hmm apalagi bunga
diterima di pilihan pertama Bunga, di jurusan musik biola, Bunga bahagia ayah”
Orang tuaku memelukku erat, dan mengelus kepalaku.
“Baiklah Bunga, besok ayah
akan menyiapkan dokumen-dokumen yang kamu butuhkan. Sekarang kamu kembali ke
kamar dan beristirahatlah. Besok pagi, kita bicarakan lagi sayang” aku
mengangguk dan mencium pipi kedua orang tuaku.
Aku
membuka buku harianku, mulai menuangkan seluruh perasaanku. Sekali lagi air mataku
mengalir, deras dan semakin deras.
Tuhan,
andaikan Engkau sedikit mengasihaniku, maka aku akan berbahagia.. aku mencintai
dia begitu lama, hingga mengeras dan mulai mengering dalam hatiku, menjadi
sebuah batu yang menyakiti bagian-bagian lain dalam rongga tubuhku.
Menyakitkan..
Aku menutup buku harianku, dan merebahkan kepalaku
ke meja. Biarlah buku ini menjadi saksi dari seluruh perjalanan cintaku. Aku
teringat akan sebuah cuplikan novel Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan
Menangis, karangan Paulo Coelho.. Ada legenda, bahwa apapun yang jatuh ke
sungai Piedra akan membeku dan menjadi batu yang membentuk dasar sungai.
Andaikan aku mampu mengambil hatiku dan seluruh kerinduanku untuk kubuang di
sungai ini, aku akan merasa lebih baik.
Begitu menyakitkankah
sebuah cinta? Jika ada satu harapan di situasiku saat ini-situasi yang tak
dapat kuubah-, aku hanya menginginkan satu hal, yakni membuang hatiku di sungai
Piedra.. dan biarlah kisah cinta ini menjadi sebuah kenangan indah yang pernah
ada dalam sepenggal hidup Bunga.
I hope someday you can find some way to understand I’m only doing this for you. I don’t really wanna go. But, deep in my heart I know this is the
kindest thing to do..
Aku menyanyikan lagu itu, I love you, good bye. Selama ini
kucari-cari alasan mengapa aku mencintaimu, Damar.. namun, tak satu pun
kutemukan jawaban. Hanya bisikan angin yang menyadarkanku bahwa lagi-lagi aku
tidak menemukan jawaban. Dan aku mulai mengetahui bahwa tidak ada alasan untuk
mencintai, dan tidak ada alasan untuk berhenti mencintai. Semua berjalan begitu
saja, dengan indahnya. Kuakhiri malam itu dengan sebuah paksaan bahwa aku harus
meninggalkan segala hal yang mengingatkan aku akan Damar, yakni meninggalkan
Jakarta dan memulai segala sesuatunya dengan yang baru. Meskipun aku yakin bahwa
cintaku tak akan pernah berhenti untuknya.
oo
Sebuah surat datang,
terpampang sebuah nama yang tak asing-dan tak akan pernah menjadi asing- Damar
Mukti. Jantungku berdegup kencang, setelah hampir 3 tahun aku menjalani hidupku
dengan tertatih-tatih di sebuah negara yang seolah menghapus nama Damar untuk
selamanya.
Bunga
terkasih,
Bunga,
setelah sekian lama kita tidak bertemu.. setelah sekian lama aku merindukanmu..
tidakkah engkau mengetahui bahwa aku mencintaimu? Selama ini aku mencoba
menutupi perasaanku, mencoba membuang rasa cintaku padamu.. karena aku berpikir
bahwa engkau pun tidak menginginkanku. Mungkin aku terlalu pengecut.
Bukan,
tentu bukan engkau yang pengecut.. tapi aku.. setelah kubaca buku yang kau
terbitkan.. aku menyesal dan sangat menyesal.. Aku menghabiskan banyak waktuku
selama ini, waktu yang seharusnya dapat kita lalui bersama.. Bunga, kuharap
engkau mau memaafkan aku.. memaafkan kebodohanku, memaafkan aku yang telah
banyak menyakitimu.
Jangan
pergi dariku, jangan pernah pergi dariku.. jangan buang hatimu. Meski kutahu
ini sudah terlalu lama. Ijinkan aku masuk ke dalam hidupmu sekali lagi, menjadi
seseorang yang berbeda. Seseorang yang tak lagi berpura-pura bahwa dia tidak
mencintaimu. Ingatkah engkau ketika kita berdua berbicara mengenai
ketertarikanmu akan hujan? Aku berharap akulah yang membuatmu menyukai hujan,
aku berharap engkau merasakan hal yang sama dari apa yang aku rasakan.. yakni
kedamaian ketika bersamamu, kesejukan yang engkau berikan dengan kehadiranmu,
dengan senyummu..
Engkaulah
yang memberikan, bukan hujan atau sebuah rintik yang menemani pembicaraan kita.
Bunga,aku mencintaimu.. Maafkan aku, aku menunggumu..
Damar
Aku menangis, menangis
dengan seluruh air mata penantianku.. biarlah ini semua keluar dan pergi
dariku, karena aku tak akan pernah lagi mengeluarkan air mata penantian dan
kesedihan.
Sebelum aku pergi ke
Inggris, aku memutuskan mengirim buku harianku ke salah satu penerbit di
Jakarta, dan tak kusangka satu bulan yang lalu bukuku diterbitkan, setelah
menunggu hampir 3 tahun. Aku ingin membuang jauh-jauh seluruh penderitaanku
yang tertulis di sebuah buku coklat menjadi sebuah kisah fiksi bagi dunia.
Sehingga tak satu pun orang mengetahui bahwa aku pernah merasakan cinta yang
begitu perihnya.
Damar.. lelaki itu,
mengerti apa yang kutulis.. mengerti bahwa itu bukanlah kisah fiksi dan
benar-benar kualami. Sekarang aku percaya bahwa cinta sejati benar-benar ada,
dan harga yang harus dibayar dari sebuah cinta sejati tidaklah murah,
membutuhkan waktu yang tidak sebentar, air mata yang tak terhitung tiap
tetesnya, luka yang berulang-ulang mencabik hati, penderitaan yang tidak bisa
dikatakan sedikit. Saat ini aku telah melewatinya, dan saat ini yang harus
kulakukan adalah menunggu kelulusanku dan pulang ke Jakarta.
Merajut kisah yang pernah
terhenti, merajut kembali apa yang telah aku tutup dengan air mata. Membuka
kisah cinta yang indah, kisah cinta yang pernah tertutup kabut penantian.
Menanti saat ketika aku akan menyayikan sebait lagu di hadapannya..
I could be the one, the one who could give you love.. the kind of love
you really need..
I could say to you that I'll always stay with you..
A few tips for creating a ring of gold - titanium cross necklace
BalasHapusOne of the most well known jewelry titanium white dominus sites is smith titanium Yggdrasil. micro touch hair trimmer Yggdrasil's Ring (also known micro touch titanium trim as the citizen titanium dive watch "Spinning" Ring) is an ancient Chinese engraved ring with