Minggu, 14 April 2013

cerita pendek satu

SEBUAH KISAH CINTA

Wish I could be the one, the one who could give you love.. the kind of love you really need.. Wish I could say to you that I'll always stay with you..

Sebait lirik lagu yang sangat kusukai, kuharapkan, dan sebuah lagu yang setia menemani hari-hariku. Sebuah lagu yang sebenarnya tidak kuinginkan, tidak kuharapkan, dan terkadang kusesali. Oh, andaikan saja sebuah kata wish bisa dihilangkan dari bait itu, itulah saat yang sungguh kutunggu-tunggu.. ketika aku dengan berani dan penuh keyakinan menyatakan padanya bahwa aku mencintainya, bahwa aku akan selalu ada untuk menemani hari-harinya. Damar, pria yang kucintai..
 Kembali teringat suatu kenangan ketika bersama dengannya..
            “Apa yang sedang kau lakukan?” suaranya mengagetkanku, aku menoleh ke arahnya, dan melihat senyumnya, senyum yang tak pernah berubah sejak 10 tahun yang lalu.
Aku tersenyum ke arahnya, kuangkat telapak tanganku untuk merasakan hujan yang sejak tadi menemaniku-atau lebih tepatnya membuatku harus menunggu untuk melanjutkan perjalanan pulang dari sekolah.
            “Ada sesuatu yang menarik dari hujan, dari air yang jatuh dari langit”
Dia mengerutkan keningnya “Menarik? Evaporasi?”
Aku tertawa “Tak kusangka ternyata engkau tertarik dengan arus hujan”
Dia tertawa dan mengikutiku mengangkat telapak tangan untuk merasakan rintik hujan, dia mulai memejamkan mata. Aku mengikutinya, memejamkan mata untuk merasakan air yang menyentuh kulitku.
            “Aha sekarang aku tahu” aku membuka mataku dan menoleh ke arahnya, tak sabar menunggu jawabannya.
            “Apa?”
            “Karena disituasi inilah kita mampu untuk benar-benar merasakan kedamaian dan kesejukan, di antara keramaian dunia” dia tersenyum dan menatapku “Apa aku benar?”
            “Tidak ada yang salah dari jawabanmu”
            “Apakah jawabanku sesuai dengan alasanmu menyebut hujan sebagai sesuatu yang menarik?”
Aku tersenyum, mungkin sebelum engkau berkata seperti itu, alasan kita tak akan sama. Namun, setelah engkau berkata padaku bahwa hujan memberikan kedamaian dan kesejukan hati, aku pun setuju denganmu.
“Sebenarnya tidak”
            “Sebenarnya? Beri tahu aku alasanmu”
            “Karena hujan memberikan suatu kekuatan lain padaku. Aku percaya di mana pun aku berada, di mana pun kita berada, kita melihat hujan yang sama, rintik yang sama, dan merasakan desiran angin yang sama, ruang dan waktu tak akan menjadi masalah, Meskipun terkadang hal ini terdengar naif”
Dia terdiam. “Ada seseorang yang membuatmu meyakini hal itu?”
Aku tersenyum, tentu saja ada. Engkau yang membuatku yakin, meskipun aku tak selalu bersama denganmu, meskipun aku bukanlah orang yang kau kehendaki untuk menghabiskan hari bersamamu, namun aku percaya dan meyakini kekuatan cintaku padamu.
            “Bunga?” dia menepuk pundakku, aku menoleh dan tersenyum. Berharap senyumku mampu membuatnya mengerti bahwa aku mencintainya. Mencintainya setulus yang kubisa.
            “Iya Damar? Oh tidak, aku hanya meyakini saja” aku berbohong “Oia, hujan sudah reda, aku harus pulang” aku beranjak pergi. Pergi berjalan meninggalkan dia seorang diri yang masih menatap ke arahku. Ingin aku tetap tinggal dan menghabiskan sore itu bersamanya, namun aku harus pergi. Entah mengapa.
            “Sampai jumpa Bunga”
Aku membalas dengan melambaikan tangan dan semakin cepat berjalan menjauh darinya, hingga tikungan membuatku hilang dari pandangannya.
oo
Potongan kisah indahku bersama Damar, aku menatap ke luar jendela. Menatap hujan yang mengingatkanku kembali sosok Damar yang lembut dan menyenangkan, Damar yang membuatku merasa bahagia, bahagia sekali pun tak ada sesuatu yang dilakukannya untukku, tak ada sesuatu yang diucapkannya untukku. Dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku menginginkan dia, meginginkan dia menjadi milikku seutuhnya, menghabiskan setiap waktunya hanya bersamaku.
 Namun, kurasa dalam lubuk hatiku yang terdalam pun memiliki sesuatu yang jauh lebih dalam-yang aku sendiri pun tidak mengetahui dengan jelas apa itu sebenarnya. Sesuatu yang membuatku mengijinkan jika Damar memilih orang lain, wanita lain untuk menjadi pendamping hidupnya. Aku tidak keberatan, namun aku menderita. Tidak keberatan? Atau aku terlalu naïf dan pengecut? Entahlah aku pun tak tahu, yang kutahu ialah bahwa aku tidak menemukan satu pun alasan untuk berhenti mencintainya.
            Air mataku menetes dan jatuh ke lantai dengan sempurna. Kembali teringat bahwa saat ini aku tidak memiliki satu pun pilihan untuk dapat mengungkapkan perasaanku padanya, perasaan yang telah kupendam bertahun-tahun lamanya. Perasaan yang tak tahu datang dari mana, perasaan yang menyiksaku-namun tak akan pernah kubiarkan pergi, perasaan yang mengikat, dan perasaan yang indah. Merina, gadis cantik yang kuharap mampu mencintai Damar jauh melebihi aku mencintainya.
            “Bunga, buka pintunya” kudengar seseorang mengetuk pintu kamarku. Segera kuhapus air mataku, dan beranjak membuka pintu.
            “Iya ibu, ada apa?”
            “Kemarilah, ke ruang tamu. Ibu dan ayah ingin berbicara denganmu”
Aku mengangguk dan mengikutinya.
            “Duduklah nak” ayahku berkata kepadaku sambil tersenyum, aku pun duduk dan mulai menunggu apa yang hendak mereka bicarakan denganku.
            “Bunga, selamat ya nak” ayah menyodorkan sebuah amplop putih. Jantungku berdegup kencang, beberapa bulan yang lalu aku mendaftar di sebuah universitas di Inggris. Kubuka amplop itu dan mulai kubaca.. aku diterima.
            “Bunga, apa kamu serius ingin kuliah di Inggris?”
Aku terdiam. Jika aku harus memilih, aku ingin memilih tinggal dan meneruskan pendidikan di universitas di mana Damar berkuliah, Namun, sekali lagi dan sekali lagi.. aku harus memilih suatu jalan yang semakin membuatku merasa tersiksa. Tersiksa karena tak akan lagi melihat Damar tertawa, melihat Damar tersenyum, melihat dia melambaikan tangan, dan bahkan melihat dia berjalan bergandengan tangan dengan Merina.
            “Bunga serius” aku tersenyum-mencoba tersenyum lebih tepatnya, “Hmm apalagi bunga diterima di pilihan pertama Bunga, di jurusan musik biola, Bunga bahagia ayah” Orang tuaku memelukku erat, dan mengelus kepalaku.
“Baiklah Bunga, besok ayah akan menyiapkan dokumen-dokumen yang kamu butuhkan. Sekarang kamu kembali ke kamar dan beristirahatlah. Besok pagi, kita bicarakan lagi sayang” aku mengangguk dan mencium pipi kedua orang tuaku.
            Aku membuka buku harianku, mulai menuangkan seluruh perasaanku. Sekali lagi air mataku mengalir, deras dan semakin deras.
Tuhan, andaikan Engkau sedikit mengasihaniku, maka aku akan berbahagia.. aku mencintai dia begitu lama, hingga mengeras dan mulai mengering dalam hatiku, menjadi sebuah batu yang menyakiti bagian-bagian lain dalam rongga tubuhku. Menyakitkan..
Aku menutup buku harianku, dan merebahkan kepalaku ke meja. Biarlah buku ini menjadi saksi dari seluruh perjalanan cintaku. Aku teringat akan sebuah cuplikan novel Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis, karangan Paulo Coelho..  Ada legenda, bahwa apapun yang jatuh ke sungai Piedra akan membeku dan menjadi batu yang membentuk dasar sungai. Andaikan aku mampu mengambil hatiku dan seluruh kerinduanku untuk kubuang di sungai ini, aku akan merasa lebih baik.
Begitu menyakitkankah sebuah cinta? Jika ada satu harapan di situasiku saat ini-situasi yang tak dapat kuubah-, aku hanya menginginkan satu hal, yakni membuang hatiku di sungai Piedra.. dan biarlah kisah cinta ini menjadi sebuah kenangan indah yang pernah ada dalam sepenggal hidup Bunga.
I hope someday you can find some way to understand I’m only doing this for you. I don’t really wanna go. But, deep in my heart I know this is the kindest thing to do..
Aku menyanyikan lagu itu, I love you, good bye. Selama ini kucari-cari alasan mengapa aku mencintaimu, Damar.. namun, tak satu pun kutemukan jawaban. Hanya bisikan angin yang menyadarkanku bahwa lagi-lagi aku tidak menemukan jawaban. Dan aku mulai mengetahui bahwa tidak ada alasan untuk mencintai, dan tidak ada alasan untuk berhenti mencintai. Semua berjalan begitu saja, dengan indahnya. Kuakhiri malam itu dengan sebuah paksaan bahwa aku harus meninggalkan segala hal yang mengingatkan aku akan Damar, yakni meninggalkan Jakarta dan memulai segala sesuatunya dengan yang baru. Meskipun aku yakin bahwa cintaku tak akan pernah berhenti untuknya.
oo
Sebuah surat datang, terpampang sebuah nama yang tak asing-dan tak akan pernah menjadi asing- Damar Mukti. Jantungku berdegup kencang, setelah hampir 3 tahun aku menjalani hidupku dengan tertatih-tatih di sebuah negara yang seolah menghapus nama Damar untuk selamanya.

Bunga terkasih,
Bunga, setelah sekian lama kita tidak bertemu.. setelah sekian lama aku merindukanmu.. tidakkah engkau mengetahui bahwa aku mencintaimu? Selama ini aku mencoba menutupi perasaanku, mencoba membuang rasa cintaku padamu.. karena aku berpikir bahwa engkau pun tidak menginginkanku. Mungkin aku terlalu pengecut.
Bukan, tentu bukan engkau yang pengecut.. tapi aku.. setelah kubaca buku yang kau terbitkan.. aku menyesal dan sangat menyesal.. Aku menghabiskan banyak waktuku selama ini, waktu yang seharusnya dapat kita lalui bersama.. Bunga, kuharap engkau mau memaafkan aku.. memaafkan kebodohanku, memaafkan aku yang telah banyak menyakitimu.
Jangan pergi dariku, jangan pernah pergi dariku.. jangan buang hatimu. Meski kutahu ini sudah terlalu lama. Ijinkan aku masuk ke dalam hidupmu sekali lagi, menjadi seseorang yang berbeda. Seseorang yang tak lagi berpura-pura bahwa dia tidak mencintaimu. Ingatkah engkau ketika kita berdua berbicara mengenai ketertarikanmu akan hujan? Aku berharap akulah yang membuatmu menyukai hujan, aku berharap engkau merasakan hal yang sama dari apa yang aku rasakan.. yakni kedamaian ketika bersamamu, kesejukan yang engkau berikan dengan kehadiranmu, dengan senyummu..
Engkaulah yang memberikan, bukan hujan atau sebuah rintik yang menemani pembicaraan kita. Bunga,aku mencintaimu.. Maafkan aku, aku menunggumu..
Damar
Aku menangis, menangis dengan seluruh air mata penantianku.. biarlah ini semua keluar dan pergi dariku, karena aku tak akan pernah lagi mengeluarkan air mata penantian dan kesedihan.
Sebelum aku pergi ke Inggris, aku memutuskan mengirim buku harianku ke salah satu penerbit di Jakarta, dan tak kusangka satu bulan yang lalu bukuku diterbitkan, setelah menunggu hampir 3 tahun. Aku ingin membuang jauh-jauh seluruh penderitaanku yang tertulis di sebuah buku coklat menjadi sebuah kisah fiksi bagi dunia. Sehingga tak satu pun orang mengetahui bahwa aku pernah merasakan cinta yang begitu perihnya.
Damar.. lelaki itu, mengerti apa yang kutulis.. mengerti bahwa itu bukanlah kisah fiksi dan benar-benar kualami. Sekarang aku percaya bahwa cinta sejati benar-benar ada, dan harga yang harus dibayar dari sebuah cinta sejati tidaklah murah, membutuhkan waktu yang tidak sebentar, air mata yang tak terhitung tiap tetesnya, luka yang berulang-ulang mencabik hati, penderitaan yang tidak bisa dikatakan sedikit. Saat ini aku telah melewatinya, dan saat ini yang harus kulakukan adalah menunggu kelulusanku dan pulang ke Jakarta.
Merajut kisah yang pernah terhenti, merajut kembali apa yang telah aku tutup dengan air mata. Membuka kisah cinta yang indah, kisah cinta yang pernah tertutup kabut penantian. Menanti saat ketika aku akan menyayikan sebait lagu di hadapannya..
I could be the one, the one who could give you love.. the kind of love you really need..
I could say to you that I'll always stay with you..




1 komentar:

  1. A few tips for creating a ring of gold - titanium cross necklace
    One of the most well known jewelry titanium white dominus sites is smith titanium Yggdrasil. micro touch hair trimmer Yggdrasil's Ring (also known micro touch titanium trim as the citizen titanium dive watch "Spinning" Ring) is an ancient Chinese engraved ring with

    BalasHapus