Kasih untuk Lena
Kematian.. kata-kata
yang sudah tak asing lagi kudengar, kata-kata yang tak lagi membuatku merasa
bahwa hal itu mengerikan, kata-kata yang selalu ada dalam hatiku dan perasaanku
yang kacau. Namun, sungguh tak bisa kupungkiri, satu-satunya yang membuatku
takut akan kematian hanyalah Ronald. Di usia 17 tahun, berbagai macam jarum
suntik, pil-pil aneh, pahit yang selalu membuatku ingin memuntahkan segala yang
ada di lambungku. Mungkin, memang untuk inilah aku hidup dan menghabiskan sisa
nafasku di dunia yang mengerikan.
“Lena..”
Sebuah suara lembut terdengar,
kutengokkan kepalaku kearah datangnya suara itu.
“Ya
mama..”
“Bagaimana
keadaanmu pagi ini sayang?” katanya seraya mengelus rambutku yang mulai rontok
karena kemoterapi, dan mencium keningku.
Aku tersenyum memeluknya.
“Mama, aku baik-baik saja, bagaimana dengan
harimu? Ah kuyakin ini melelahkan bukan, ehm engkau harus menghabiskan hampir
seluruh waktumu di tempat ini, hanya untuk menemaniku dan menanyakan apa aku
baik-baik saja”
Dia melepaskan pelukanku dan menatap
bola mataku dalam-dalam.
“Lena?
Mengapa kau selalu bicara seperti itu setiap hari? Aku menyayangimu sayang, ini
takkan membosankan jika bersamamu. Kumohon jangan berkata seperti itu lagi.
Mengerti?”
Aku tertawa kecil.
“Ah
mama ada-ada saja. Aku hanya mencoba menebak apa yang kau rasakan dan anehnya semua
tebakanku selalu sama disetiap harinya. Aku lapar, apakah kau membawa makanan
yang enak hari ini, selain bubur hambar yang sepertinya hanya mengotori lidahku
saja. Haha. Makanan rumah sakit yang mengerikan”
“Lena,
sudahlah. Aku selalu mencoba memahamimu, namun aku takkan pernah mampu
mengatakan bahwa aku memahamimu.” Dia meletakkan bungkusan hitam yang dibawanya,
dan duduk disampingku lagi. “Hari ini aku membawa ayam rica pedas kesukaanmu. Aku
yakin kau akan menyukainya.”
Aku tersenyum, dia
beranjak dari tempat tidurku dan mulai membuka bungkusan hitam yang dibawanya.
Sebuah ayam potong rica diletakkan diatas sebuah piring bergambar burung
bangau, piring kesayanganku pemberian Ronald. Kekasih terbaikku.
“Ini,
kau pasti menyukainya, ayam ini sudah kulembutkan sayang, sehingga takkan
melukai gusimu. Dan tentunya bubur lembut yang sangat kau sukai”
“Kusukai?
Semoga memang seperti itulah kenyataannya, haha.. boleh aku makan sekarang?”
“Tentu
saja sayang”
Aku menatap sepiring
bubur putih menjemukan, dan sepotong ayam rica yang mungkin jika kugigit akan
langsung hancur. Terkadang aku berfikir, alangkah baiknya jika aku menderita
penyakit ini ketika aku bayi.
“Tok.. tok.. tok..”
Kudengar pintu diketuk.
Aku berhenti memasukkan benda-benda aneh tak berasa dimulutku dan mencoba
menelannya senikmat mungkin. Meski takkan pernah bisa.
“Mama.. siapa yang
mengetuk pintu?”
“Sebentar, akan
kulihat, makanlah yang banyak sayang”
Aku menganggukkan kepalaku. Berharap
sosok penuh kedamaian itu datang dan menciumku.
“Lena…”
“Ronald…”
Yah, ternyata memang
dia yang kutunggu. Entah mengapa setiap menatapnya lekat aku merasa tak pantas
menjadi seorang yang dicintainya. Aku sekarang hanyalah seperti seonggok daging
tak berguna. Gadis yang menyedihkan. Dan dia, pangeranku, yang gagah dan
lembut.
“Mama
ke depan dulu sayang. Ronald, titip Lena ya”
Mama keluar kamar
seraya mengerjapkan sebelah matanya ke arah Ronald. Ronaldku tesenyum memandangku,
meletakkan sebuah rangkaian mawar putih dipelukanku. Kucium bunga itu perlahan.
Harum dan menyejukkan hatiku.
“Aku
menyayangimu. Makanlah, setelah itu kita akan berjalan-jalan ke taman di
sebelah rumah sakit”
Aku tersenyum memandangnya. Ronald..
mengapa engkau begitu menyayangiku, siapalah aku?
“Pasti
sayang, apa kau sudah makan? Haha.. tentunya aku takkan menawarkan makananku
padamu”
Dia tertawa mengelus pipiku. “Kau ini..
makanlah cepat”
Kuselesaikan
acara makan menjemukanku secepat mungkin. Tak peduli entah itu akan melukai
tubuhku atau tidak. Bisa bersama Ronald secepatnya terasa begitu membahagiakan.
“Mari
putriku sayang”
Dia membantuku duduk di sebuah kursi
roda yang sudah menemaniku 6 bulan lamanya. Aku tersenyum dan mengecup
tangannya. Dia mendorong kursi rodaku lembut, berjalan pelan kearah sebuah
taman bunga di sebelah rumah sakit ini.
“Apa
kau bahagia bersamaku sayang?”
“Tentu
Ronald.. mengapa kau bertanya seperti itu?”
“Aku
hanya takut membuatmu sedih sayang, kuharap setiap harimu akan terasa
menyenangkan”
Aku tersenyum, hatiku bergejolak
kencang. “Apakah ini adil bagimu sayang?”
“Adil?
Apa maksudmu?”
Aku terdiam sejanak.
“Kurasa ini sungguh tak adil bagimu dan bagi hidupmu Ronald. Tak seharusnya kau
menghabiskan banyak waktumu hanya untuk menemaniku seperti ini.. terkadang aku
merasa sedih memikirkannya”
Dia terdiam. Kurasakan helaan panjang
nafasnya.
“Ronald..
boleh aku bertanya sesuatu?”
Dia tetap membisu. Aku
terdiam sejenak, kemudian memberanikan diri membuka mulut “Ronald.. Aku, Lena
hanyalah seorang gadis tak berguna, selalu menyusahkan banyak orang, bahkan aku
yakin aku berhasil membuat banyak orang bersedih dan menangis hanya karena aku.”
Aku menghela nafas panjang, ini menyesakkan “Namun.. mengapa kau masih tetap
menyayangiku? Tak bosankah kau melihat keadaanku sperti ini. Aku yakin aku sama
sekali tak cantik dimata siapapun, dan tentu saja tak terlihat menarik
sedikitpun haha..” mengatakan hal ini seolah membuat dadaku begitu sesak.
Kupaksakan tertawa.
Dia memberhentikan
kursi roda ini sejenak, lalu mendorongnya pelan, kembali berjalan menuju sebuah
taman indah disana “Lena.. taukah engkau apa yang membuatku begitu menyayangimu
dan takkan pernah melepaskanmu sampai kapanpun? Keadilan, akan sangat tidak
adil jika aku tak memilikimu. Kukira selama ini kau mengerti sayang. Aku kecewa
karena pertanyaanmu saat ini, dan ingatlah selalu kau selalu cantik dimataku
dan dimata siapapun”
Aku terdiam, sedikit
merasa bersalah dan sedih, “Ronald.. aku hanya..” Air mataku menetes perlahan.
“Sebenarnya aku begitu takut engkau meninggalkanku..” tangisku pecah.
Kami behenti di sebuah
taman, dia menggendongku dan mendudukanku di sebuah kursi putih di taman itu.
Menatap air terjun buatan kecil yang sengaja dibuat disana.
“Lena..
mengertilah aku tidak hanya mencintaimu namun aku juga sangat membutuhkanmu.
Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkanmu seorang diri? Aku takkan bisa hidup
sayang. Kumohon, jangan berkata dan bertanya seperti itu lagi. Itu sangat
menyakitkan bagiku” dia memelukku erat. Mencium kepalaku. Aku menangis
sekuat-kuatnya dipelukan hangatnya. Perasaanku sangat kacau, Tuhan, mengapa
Engkau menginginkan aku menderita penyakit kanker darah menjijikan ini? Aku
takkan bisa meninggalkan Ronald dan mama sendirian. Bukankah papa sudah cukup
untuk menderita penyakit ini Tuhan? Mengapa semua ini harus terjadi, apakah ini
yang dinamakan cobaan? Jika iya, mengapa tak ada penyelesaian dari semua ini
Tuhan? Apakah aku memang harus mati? Tuhan aku sungguh tak mampu meninggalkan
dia..
Sayang, kau harus
kuat.. justru akulah yang sungguh takut kau akan meninggalkanku. Mengertilah
itu. Ronald menitikkan air matanya namun segera menghapus setitik air itu
secepat mungkin.
“Sayang,
kau harus bahagia. Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu sayang, sampai
kapanpun, percayalah aku takkan pergi sedetikpun darimu”
“Aku
sangat mencintaimu, terimakasih, kaulah anugerah terindah dalam hidupku.
Selamanya, maafkan aku jika suatu saat akulah yang harus meninggalkanmu. Namun
kuyakin kau tahu pasti itu sama sekali bukan keinginanku”
Dia mempererat
pelukannya. Mengangkat wajahku perlahan, mengusap air mataku. Mencium bibirku
lembut. Kami berciuman disebuah taman yang indah, melepas segala duka dan
kekacauan rasa. Ronald aku sangat mencintaimu.. sungguh aku takkan pernah mampu
meninggalkanmu sayang..
“Aku
tak ingin kau berbicara seperti itu. Kumohon, jangan sekarang, jangan sekarang
Lena. Aku takkan mampu mendengarnya..”
***
Kubuka kelopak mataku.
Sebuah cahaya menyilaukan mataku dan memaksa pupilku tuk mengecil. Kudengar
sebuah bisikan ditelingaku.
“Lenaku.. kau harus
kuat. Aku sangat mencintaimu.. sayang.. sayang..”
Kucoba berbicara, namun
terasa begitu sulit. Seolah sebuah batu besar menghantam dadaku. Aku kesulitan
bernafas. Leherku terasa tercekik erat. Tubuhku seolah dihantam berbagai macam
benda berat. Aku tak mampu lagi melihat. Cahaya itu perlahan menghilang,
menghilang dan kegelapan menggantikannya. Gelap, dan sungguh gelap. Perlahan
kudengar sebuah bisikan lembut ditelingaku. Entah itu nyata atau tidak namun
aku mempercayai hal itu.
“Lena.. Lenaku sayang..
pergilah, pergilah dengan tenang. Jangan pernah merindukanku, kau pasti akan
bahagia disana sayang. Suatu hari nanti kita kan bertemu kembali disebuah
kehidupan abadi nan indah disana, dan kuyakin kita kan hidup bahagia bersama
sayang. Tak apa saat ini engkau meninggalkan aku sendiri. Karena kuyakin engkau
bahagia disana. Ingatlah aku selalu mencintaimu”
Ronaldku. Baru kusadari
aku telah meninggal. Meninggalkan Ronaldku tersayang, Ronald yang selalu
mencoba tuk tertawa dan tersenyum meski kutahu kau begitu menderita, Ronald
yang selalu menemaniku dalam setiap perjalanan hidupku, Ronald yang selalu
mencintaiku sepenuh hati, menciumku penuh kelembutan dan memelukku hangat.
Ronald,, aku sangat mencintaimu.. maafkan aku.. maafkan aku sayang..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar