Senin, 15 April 2013

cerita pendek dua

Kasih untuk Lena


Kematian.. kata-kata yang sudah tak asing lagi kudengar, kata-kata yang tak lagi membuatku merasa bahwa hal itu mengerikan, kata-kata yang selalu ada dalam hatiku dan perasaanku yang kacau. Namun, sungguh tak bisa kupungkiri, satu-satunya yang membuatku takut akan kematian hanyalah Ronald. Di usia 17 tahun, berbagai macam jarum suntik, pil-pil aneh, pahit yang selalu membuatku ingin memuntahkan segala yang ada di lambungku. Mungkin, memang untuk inilah aku hidup dan menghabiskan sisa nafasku di dunia yang mengerikan.
            “Lena..”
Sebuah suara lembut terdengar, kutengokkan kepalaku kearah datangnya suara itu.
            “Ya mama..”
            “Bagaimana keadaanmu pagi ini sayang?” katanya seraya mengelus rambutku yang mulai rontok karena kemoterapi, dan mencium keningku.
Aku tersenyum memeluknya.
 “Mama, aku baik-baik saja, bagaimana dengan harimu? Ah kuyakin ini melelahkan bukan, ehm engkau harus menghabiskan hampir seluruh waktumu di tempat ini, hanya untuk menemaniku dan menanyakan apa aku baik-baik saja”
Dia melepaskan pelukanku dan menatap bola mataku dalam-dalam.
            “Lena? Mengapa kau selalu bicara seperti itu setiap hari? Aku menyayangimu sayang, ini takkan membosankan jika bersamamu. Kumohon jangan berkata seperti itu lagi. Mengerti?”
Aku tertawa kecil.
            “Ah mama ada-ada saja. Aku hanya mencoba menebak apa yang kau rasakan dan anehnya semua tebakanku selalu sama disetiap harinya. Aku lapar, apakah kau membawa makanan yang enak hari ini, selain bubur hambar yang sepertinya hanya mengotori lidahku saja. Haha. Makanan rumah sakit yang mengerikan”
            “Lena, sudahlah. Aku selalu mencoba memahamimu, namun aku takkan pernah mampu mengatakan bahwa aku memahamimu.” Dia meletakkan bungkusan hitam yang dibawanya, dan duduk disampingku lagi. “Hari ini aku membawa ayam rica pedas kesukaanmu. Aku yakin kau akan menyukainya.”
Aku tersenyum, dia beranjak dari tempat tidurku dan mulai membuka bungkusan hitam yang dibawanya. Sebuah ayam potong rica diletakkan diatas sebuah piring bergambar burung bangau, piring kesayanganku pemberian Ronald. Kekasih terbaikku.
            “Ini, kau pasti menyukainya, ayam ini sudah kulembutkan sayang, sehingga takkan melukai gusimu. Dan tentunya bubur lembut yang sangat kau sukai”
            “Kusukai? Semoga memang seperti itulah kenyataannya, haha.. boleh aku makan sekarang?”
            “Tentu saja sayang”
Aku menatap sepiring bubur putih menjemukan, dan sepotong ayam rica yang mungkin jika kugigit akan langsung hancur. Terkadang aku berfikir, alangkah baiknya jika aku menderita penyakit ini ketika aku bayi.
“Tok.. tok.. tok..”
Kudengar pintu diketuk. Aku berhenti memasukkan benda-benda aneh tak berasa dimulutku dan mencoba menelannya senikmat mungkin. Meski takkan pernah bisa.
“Mama.. siapa yang mengetuk pintu?”
“Sebentar, akan kulihat, makanlah yang banyak sayang”
Aku menganggukkan kepalaku. Berharap sosok penuh kedamaian itu datang dan menciumku.
            “Lena…”
            “Ronald…”
Yah, ternyata memang dia yang kutunggu. Entah mengapa setiap menatapnya lekat aku merasa tak pantas menjadi seorang yang dicintainya. Aku sekarang hanyalah seperti seonggok daging tak berguna. Gadis yang menyedihkan. Dan dia, pangeranku, yang gagah dan lembut.
            “Mama ke depan dulu sayang. Ronald, titip Lena ya”
Mama keluar kamar seraya mengerjapkan sebelah matanya ke arah Ronald. Ronaldku tesenyum memandangku, meletakkan sebuah rangkaian mawar putih dipelukanku. Kucium bunga itu perlahan. Harum dan menyejukkan hatiku.
            “Aku menyayangimu. Makanlah, setelah itu kita akan berjalan-jalan ke taman di sebelah rumah sakit”
Aku tersenyum memandangnya. Ronald.. mengapa engkau begitu menyayangiku, siapalah aku?
            “Pasti sayang, apa kau sudah makan? Haha.. tentunya aku takkan menawarkan makananku padamu”
Dia tertawa mengelus pipiku. “Kau ini.. makanlah cepat”
            Kuselesaikan acara makan menjemukanku secepat mungkin. Tak peduli entah itu akan melukai tubuhku atau tidak. Bisa bersama Ronald secepatnya terasa begitu membahagiakan.
            “Mari putriku sayang”
Dia membantuku duduk di sebuah kursi roda yang sudah menemaniku 6 bulan lamanya. Aku tersenyum dan mengecup tangannya. Dia mendorong kursi rodaku lembut, berjalan pelan kearah sebuah taman bunga di sebelah rumah sakit ini.
            “Apa kau bahagia bersamaku sayang?”
            “Tentu Ronald.. mengapa kau bertanya seperti itu?”
            “Aku hanya takut membuatmu sedih sayang, kuharap setiap harimu akan terasa menyenangkan”
Aku tersenyum, hatiku bergejolak kencang. “Apakah ini adil bagimu sayang?”
            “Adil? Apa maksudmu?”
Aku terdiam sejanak. “Kurasa ini sungguh tak adil bagimu dan bagi hidupmu Ronald. Tak seharusnya kau menghabiskan banyak waktumu hanya untuk menemaniku seperti ini.. terkadang aku merasa sedih memikirkannya”
Dia terdiam. Kurasakan helaan panjang nafasnya.
            “Ronald.. boleh aku bertanya sesuatu?”
Dia tetap membisu. Aku terdiam sejenak, kemudian memberanikan diri membuka mulut “Ronald.. Aku, Lena hanyalah seorang gadis tak berguna, selalu menyusahkan banyak orang, bahkan aku yakin aku berhasil membuat banyak orang bersedih dan menangis hanya karena aku.” Aku menghela nafas panjang, ini menyesakkan “Namun.. mengapa kau masih tetap menyayangiku? Tak bosankah kau melihat keadaanku sperti ini. Aku yakin aku sama sekali tak cantik dimata siapapun, dan tentu saja tak terlihat menarik sedikitpun haha..” mengatakan hal ini seolah membuat dadaku begitu sesak. Kupaksakan tertawa.
Dia memberhentikan kursi roda ini sejenak, lalu mendorongnya pelan, kembali berjalan menuju sebuah taman indah disana “Lena.. taukah engkau apa yang membuatku begitu menyayangimu dan takkan pernah melepaskanmu sampai kapanpun? Keadilan, akan sangat tidak adil jika aku tak memilikimu. Kukira selama ini kau mengerti sayang. Aku kecewa karena pertanyaanmu saat ini, dan ingatlah selalu kau selalu cantik dimataku dan dimata siapapun”
Aku terdiam, sedikit merasa bersalah dan sedih, “Ronald.. aku hanya..” Air mataku menetes perlahan. “Sebenarnya aku begitu takut engkau meninggalkanku..” tangisku pecah.
Kami behenti di sebuah taman, dia menggendongku dan mendudukanku di sebuah kursi putih di taman itu. Menatap air terjun buatan kecil yang sengaja dibuat disana.
            “Lena.. mengertilah aku tidak hanya mencintaimu namun aku juga sangat membutuhkanmu. Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkanmu seorang diri? Aku takkan bisa hidup sayang. Kumohon, jangan berkata dan bertanya seperti itu lagi. Itu sangat menyakitkan bagiku” dia memelukku erat. Mencium kepalaku. Aku menangis sekuat-kuatnya dipelukan hangatnya. Perasaanku sangat kacau, Tuhan, mengapa Engkau menginginkan aku menderita penyakit kanker darah menjijikan ini? Aku takkan bisa meninggalkan Ronald dan mama sendirian. Bukankah papa sudah cukup untuk menderita penyakit ini Tuhan? Mengapa semua ini harus terjadi, apakah ini yang dinamakan cobaan? Jika iya, mengapa tak ada penyelesaian dari semua ini Tuhan? Apakah aku memang harus mati? Tuhan aku sungguh tak mampu meninggalkan dia..
Sayang, kau harus kuat.. justru akulah yang sungguh takut kau akan meninggalkanku. Mengertilah itu. Ronald menitikkan air matanya namun segera menghapus setitik air itu secepat mungkin.
            “Sayang, kau harus bahagia. Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu sayang, sampai kapanpun, percayalah aku takkan pergi sedetikpun darimu”
            “Aku sangat mencintaimu, terimakasih, kaulah anugerah terindah dalam hidupku. Selamanya, maafkan aku jika suatu saat akulah yang harus meninggalkanmu. Namun kuyakin kau tahu pasti itu sama sekali bukan keinginanku”
Dia mempererat pelukannya. Mengangkat wajahku perlahan, mengusap air mataku. Mencium bibirku lembut. Kami berciuman disebuah taman yang indah, melepas segala duka dan kekacauan rasa. Ronald aku sangat mencintaimu.. sungguh aku takkan pernah mampu meninggalkanmu sayang..
            “Aku tak ingin kau berbicara seperti itu. Kumohon, jangan sekarang, jangan sekarang Lena. Aku takkan mampu mendengarnya..”

***
Kubuka kelopak mataku. Sebuah cahaya menyilaukan mataku dan memaksa pupilku tuk mengecil. Kudengar sebuah bisikan ditelingaku.
“Lenaku.. kau harus kuat. Aku sangat mencintaimu.. sayang.. sayang..”
Kucoba berbicara, namun terasa begitu sulit. Seolah sebuah batu besar menghantam dadaku. Aku kesulitan bernafas. Leherku terasa tercekik erat. Tubuhku seolah dihantam berbagai macam benda berat. Aku tak mampu lagi melihat. Cahaya itu perlahan menghilang, menghilang dan kegelapan menggantikannya. Gelap, dan sungguh gelap. Perlahan kudengar sebuah bisikan lembut ditelingaku. Entah itu nyata atau tidak namun aku mempercayai hal itu.
“Lena.. Lenaku sayang.. pergilah, pergilah dengan tenang. Jangan pernah merindukanku, kau pasti akan bahagia disana sayang. Suatu hari nanti kita kan bertemu kembali disebuah kehidupan abadi nan indah disana, dan kuyakin kita kan hidup bahagia bersama sayang. Tak apa saat ini engkau meninggalkan aku sendiri. Karena kuyakin engkau bahagia disana. Ingatlah aku selalu mencintaimu”
Ronaldku. Baru kusadari aku telah meninggal. Meninggalkan Ronaldku tersayang, Ronald yang selalu mencoba tuk tertawa dan tersenyum meski kutahu kau begitu menderita, Ronald yang selalu menemaniku dalam setiap perjalanan hidupku, Ronald yang selalu mencintaiku sepenuh hati, menciumku penuh kelembutan dan memelukku hangat. Ronald,, aku sangat mencintaimu.. maafkan aku.. maafkan aku sayang..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar